**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa deflasi yang tercatat selama lima bulan berturut-turut merupakan hasil dari upaya keras pemerintah dalam menekan laju inflasi. Dalam penjelasannya, Airlangga menyatakan bahwa penurunan angka inflasi hingga mencapai deflasi ini tidak terlepas dari adanya *extra effort* yang dikerahkan pemerintah, terutama di bidang pengelolaan harga bahan pangan yang cenderung bergejolak atau *volatile food*.
Dia memberikan contoh konkret seperti upaya pemerintah dalam melakukan impor beras untuk menjaga kestabilan pasokan. Hal ini dilakukan agar stok pangan tetap terjaga, yang pada gilirannya berpengaruh positif terhadap inflasi. Menurutnya, inflasi yang menurun ini dapat terlihat dengan jelas dan merupakan tanda bahwa pemerintah berupaya keras untuk meneruskan penekanan inflasi.
Salah satu strategi yang diandalkan adalah pengendalian harga pangan, mengingat lonjakan harga pangan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap angka inflasi. Airlangga juga menyebutkan bahwa pemerintah tetap rutin mengadakan rapat tentang inflasi di tingkat daerah setiap awal pekan untuk mengawasi perkembangan lebih lanjut.
Dia menekankan bahwa fokus utama pemerintah adalah pada *core inflation*, yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi. Jika *core inflation* menunjukkan angka positif, maka itu menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi berada pada jalur sehat. Namun, pemerintah masih perlu memerangi faktor-faktor yang menyebabkan ketidakstabilan harga pangan.
Lebih jauh, Airlangga menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam tahap baik, dengan inflasi harus dijaga dalam rentang 2,5 persen plus minus 1 persen. Ia menyatakan bahwa selama angka inflasi tetap berada dalam rentang tersebut, perekonomian negara akan relatif aman.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa deflasi tercatat sebesar 0,12 persen pada bulan September 2024 (*month-to-month/mtm*), yang melanjutkan tren deflasi yang terjadi sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh penyesuaian yang terjadi pada sisi suplai pangan.
Tren deflasi ini telah berlangsung sejak bulan Mei 2024 dan berlanjut hingga September. Pencatatan deflasi pada bulan September 2024 menjadi deflasi terdalam jika dibandingkan dengan bulan yang sama dalam lima tahun terakhir. Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa deflasi dalam lima bulan terakhir pada umumnya disumbang oleh penurunan harga komoditas yang bergejolak.
Menurutnya, penurunan harga ini banyak dipengaruhi oleh aspek penawaran. Di bulan September 2024, komponen harga bergejolak menunjukkan angka deflasi sebesar 1,34 persen, memberi andil sebesar 0,21 persen terhadap inflasi umum.
Beberapa komoditas utama yang berperan dalam penurunan harga pada bulan tersebut meliputi cabai merah dan cabai rawit dengan kontribusi masing-masing sebesar 0,09 persen dan 0,08 persen. Selain itu, telur ayam ras, daging ayam ras, serta beberapa jenis sayuran seperti tomat, daun bawang, kentang, dan wortel juga turut berkontribusi dalam deflasi bulanan dengan andil masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,01 persen.
ANTARA
Deflasi Lima Bulan Berturut-turut, Upaya Pemerintah Menekan Inflasi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







