JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan pada Rabu sore, sejalan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik. IHSG ditutup dengan kehilangan 78,87 poin, atau setara dengan penurunan sebesar 1,03 persen, yang mencatat posisi akhir di angka 7.563,25. Sementara itu, indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga mengalami penurunan, dengan pengurangan sebesar 14,66 poin atau 1,54 persen ke level 938,69. Peningkatan ketegangan tersebut sebagian besar dipicu oleh insiden di Timur Tengah, di mana Iran meluncurkan lebih dari 100 rudal balistik sebagai balasan atas kematian seorang pemimpin kelompok Hizbullah di Lebanon. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa eskalasi lebih lanjut dapat merusak stabilitas pasokan minyak global. Akibatnya, harga minyak mentah dalam kontrak berjangka meloncat lebih dari 2 persen. Ketegangan yang terbaru ini mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas. Hal ini terlihat dari kenaikan harga emas yang melebihi 1 persen, serta penurunan imbal hasil (*yield*) dari surat utang Pemerintah AS untuk tenor 10 tahun yang turun dari 3,79 persen menjadi 3,73 persen. Di sisi ekonomi makro, pelaku pasar tengah mencermati rilis data dari sektor tenaga kerja Amerika Serikat dan sektor manufaktur. Berdasarkan laporan *Job Openings and Labor Turnover Survey* (JOLTS), terdapat peningkatan tak terduga pada jumlah lowongan kerja yang bertambah sebanyak 329.000, yang membuat totalnya mencapai 8,04 juta di bulan Agustus, naik dari 7,71 juta di bulan Juli. Angka ini jauh melebihi ekspektasi pasar yang memprediksi hanya sekitar 7,65 juta. Data tersebut mengindikasikan bahwa meskipun terdapat pelambatan dalam pasar tenaga kerja AS, namun laju perlambatan tersebut tidak berlangsung dengan cepat. Sementara itu, untuk sektor manufaktur, *ISM Manufacturing Index* tercatat pada level 47,2 untuk bulan September, yang sama dengan tingkat pada bulan Agustus dan sedikit turun dari prediksi pasar yang mengharapkan angka 47,5. Ini menunjukkan bahwa kontraksi dalam sektor manufaktur telah berlangsung selama enam bulan berturut-turut. Dari Eropa, perkiraan awal menunjukkan bahwa tingkat inflasi di zona Euro turun di bawah 2 persen untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Inflasi (*Consumer Price Index*) di zona Euro dilaporkan melonjak menjadi 1,8 persen (yoy) untuk bulan September, turun dari 2,2 persen (yoy) di bulan Agustus. Tren penurunan ini memberikan ruang bagi Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertimbangkan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat. Menurut Indeks Sektoral IDX-IC, kesepuluh sektor di bursa saham mengalami penurunan. Penurunan paling signifikan terjadi di sektor infrastruktur yang turun 1,55 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan barang konsumsi non-primer, masing-masing sebesar 1,52 persen. Sementara itu, sektor energi hanya mengalami penurunan kecil sebesar 0,33 persen. Di antara saham-saham yang mencatatkan penguatan tertinggi adalah INTD, NEST, MEDC, RAJA, dan TRUK. Sebaliknya, saham-saham yang mengalami penurunan signifikan termasuk PMMP, BBYB, BIPI, TOBA, dan APLN. Frekuensi perdagangan saham dalam hari itu tercatat sebanyak 1.495.428 transaksi, dengan total volume mencapai 33,03 miliar lembar saham, yang bernilai sekitar Rp14,35 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 163 saham mengalami kenaikan, 453 saham mengalami penurunan, dan 186 saham tidak mengalami perubahan harga. Di bursa saham Asia, indikator-indikator juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei mengalami penurunan sebesar 843,19 poin atau 2,18 persen, mencapai level 37.808,80. Di sisi lain, indeks Hang Seng justru mencatatkan penguatan 1.310,05 poin atau 6,20 persen menjadi 22.443,73, sedangkan indeks Strait Times menguat 8,91 poin, atau 0,25 persen, ke angka 3.589,87. Tidak ketinggalan, indeks Shanghai ditutup karena peringatan hari libur nasional di China. ANTARA