JAKARTA –
**Borneonews - Denpasar**, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menegaskan pentingnya pendekatan kebijakan yang berfokus pada pengguna atau *user-centered* dalam rangka transformasi digital pendidikan di Indonesia. Dalam acara Gateways Study Visit Indonesia (GSVI) 2024 yang berlangsung di Denpasar, Bali, ia menyampaikan bahwa kebijakan yang diambil tidak seharusnya didasarkan pada keinginan pihak tertentu, melainkan harus mengacu pada kebutuhan dan masalah nyata yang dihadapi oleh semua pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Nadiem menilai bahwa pendekatan *user-centered* lebih efektif bila dibandingkan dengan metode pengambilan kebijakan yang bersifat top-down. Ia menjelaskan bahwa dalam pembuatan kebijakan, masyarakat sebagai pengguna harus menjadi perhatian utama, sama seperti sebuah produk yang harus memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen. Ia memberikan dua alasan utama mengenai efektivitas pendekatan *user-centered*. Pertama, jika suatu kebijakan atau produk gagal menyelesaikan masalah yang ada, maka kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan tersebut akan menurun drastis. "Ketika itu terjadi, penggunaan produk tersebut akan dipaksakan, yang pada akhirnya akan menghasilkan ketidakpuasan di kalangan pengguna," ungkapnya. Alasan kedua menyebutkan bahwa pendekatan ini dapat memberikan masukan yang berharga dalam proses perumusan kebijakan. Nadiem merujuk kepada tradisi lama dalam pembuatan kebijakan, dimana banyak ahli dikumpulkan dalam satu ruangan untuk menyusun dokumen, yang sering kali berakhir dilupakan karena adanya kebijakan baru yang lebih mendesak. "Cara ini membuat kita tidak tahu apakah kebijakan tersebut efektif atau tidak serta dampaknya terhadap masyarakat," jelasnya. Nadiem menekankan bahwa dengan memperlakukan kebijakan layaknya produk dan mendesainnya dengan fokus pada pengguna, maka ada proses iteratif yang memungkinkan perbaikan kebijakan berkelanjutan. Hal ini menyerupai cara pengembangan aplikasi atau teknologi, di mana masukan dari pengguna sangat berharga untuk perbaikan. Sebagai langkah nyata dalam transformasi digital pendidikan, sejumlah strategi telah diterapkan, seperti Platform Merdeka Mengajar yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran, Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS), serta Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (Siplah) untuk mempermudah pengelolaan perencanaan dan pengeluaran sekolah. Rapor Pendidikan juga menjadi alat evaluasi penting untuk pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Semua inisiatif ini ditekankan pada prinsip *user-centered* yang berfokus pada investasi dalam sumber daya manusia, dengan harapan agar manfaatnya dapat dimaksimalkan. Upaya ini mendapatkan apresiasi dari Pimpinan Gateways dan Kepala Pusat Inovasi Pembelajaran Global UNICEF, Frank van Cappelle. Ia menyatakan bahwa pemikiran yang inovatif dan perubahan paradigma sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan kompleks di bidang pendidikan, terutama di negara seluas Indonesia. Van Cappelle menambahkan bahwa teknologi yang digunakan harus menempatkan pengguna sebagai pusat dalam proses inovasi, sebagaimana telah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi di Indonesia. Ia memberikan pujian kepada pembangunan berbasis bukti yang telah diimplementasikan. ANTARA