**Borneonews - Jakarta**, Psikolog Anastasia Satriyo memberikan penjelasan mengenai berbagai strategi untuk mencegah anak dari pemikiran dan perilaku kriminal. Menurutnya, perhatian harus difokuskan pada perkembangan otak anak, yang sebaiknya dimulai sejak persiapan kehamilan.
Dalam penjelasan yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan, Anastasia menekankan pentingnya kesiapan emosional orang tua sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung perkembangan otak anak. Ia mengamati bahwa di Indonesia, seringkali pasangan yang baru saja menikah diharapkan segera untuk hamil dalam waktu singkat, yang berpotensi membuat mereka tidak benar-benar siap untuk menjadi orang tua.
Anastasia juga berpendapat bahwa stresor, seperti emosi yang kuat atau kekerasan yang dialami atau disaksikan selama kehamilan, dapat berdampak negatif pada kesehatan janin. Oleh karena itu, ia menganjurkan agar pasangan menunggu setidaknya satu tahun sebelum merencanakan kehamilan, untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua yang lebih baik.
"Jika kita belum menguasai cara mengelola stres dalam kehidupan sebagai individu, penambahan beban stres dalam hubungan berpasangan juga akan menjadi tantangan. Bagaimana kita bisa mengelola stres ketika memiliki anak?" tegasnya. Ia menyadari bahwa memiliki anak bisa membawa kebahagiaan, namun juga tidak jarang menimbulkan stres tambahan.
Lebih jauh, faktor lingkungan di sekitar juga tidak bisa diabaikan. Ia menyarankan agar orang tua mengeksplorasi data tentang tingkat kriminalitas di lokasi tempat tinggal mereka, serta mengamati karakter masyarakat dalam komunitas tersebut.
Anastasia menekankan pula pentingnya membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak, sebuah proses yang sebaiknya dimulai ketika anak masih di bawah usia dua tahun. "Sambutlah setiap pagi dengan wajah ceria ketika anak bangun. Hal itu dapat memberikan pengalaman positif dalam diri anak, membuat mereka merasa berharga," jelasnya.
Selain itu, ia menyampaikan perhatian Kementerian Kesehatan terhadap fenomena depresi pasca melahirkan yang mungkin dialami oleh ibu. Ekspresi datar dari wajah seorang ibu di hadapan bayinya dapat menciptakan ketakutan pada si anak.
Anastasia menambahkan bahwa anak-anak belajar dari hubungan sebab-akibat. Jika mereka merasa bahwa orang tua hanya merespons ketika berbuat nakal atau berbahaya, maka mereka akan cenderung melakukan perilaku tersebut agar mendapatkan perhatian.
Orang tua juga perlu membantu anak-anak dalam mengelola emosi, mengingat pada masa pertumbuhan, anak-anak masih bergantung pada orang dewasa untuk melakukan *co-regulation* emosi. Untuk menciptakan individu yang sehat secara mental, penting untuk menenangkan mereka dan membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
"Emosi anak ibarat sirkuit listrik. Ketika menurun, mereka tidak bisa membangkitkan diri sendiri, melainkan butuh bantuan dari orang dewasa," ungkapnya.
Jika seseorang terus hidup dalam ketakutan, baik karena ancaman atau masalah yang tidak terpecahkan, mereka akan menganggap stres sebagai hal yang normal. Anastasia mengkhawatirkan bahwa anak-anak yang mengalami kekerasan atau penindasan, tanpa adanya intervensi psikologis yang tepat, berpotensi menjadi pelaku di kemudian hari.
"Dalam jangka panjang, anak-anak yang pernah menjadi korban akan melakukan perilaku yang sama jika tidak ada bantuan profesional," pungkasnya.
ANTARA
Kiat Psikolog Cegah Anak dari Pemikiran dan Perilaku Kriminal
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Generasi Tua Dayak Tola' Keluhkan Bahasa Daerah yang Kian Menghilang
Tavares Soroti Penyelesaian Akhir Persebaya Usai Kalah dari PSM
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Komentar (0)
Memuat komentar…







