**Borneonews - Jakarta**, Batik kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dan dapat ditemui di berbagai kalangan. Pada masa lalu, penggunaan batik terbatas hanya pada lingkup keraton, yaitu oleh raja dan keluarganya. Namun, seiring dengan perkembangan sejarah dan budaya, batik mulai diproduksi secara luas oleh masyarakat dan memperoleh popularitas sebagai salah satu pilihan pakaian yang khas.
Menurut informasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pengembangan batik dimulai pada era Kerajaan Mataram dan diteruskan pada masa Kerajaan Solo serta Yogyakarta. Sejak saat itu, berbagai corak dan ragam batik terus mengalami perkembangan yang signifikan hingga saat ini. Batik yang dulunya hanya dikenakan pada acara resmi atau formal, kini telah merambah ke penggunaan sehari-hari dengan desain yang lebih modern dan bervariasi.
Peletakan batu pertama dalam pengakuan batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO terjadi pada tahun 2009. Setelah pengakuan ini, batik semakin dikenal luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa. Kebanggaan terhadap batik sebagai warisan budaya leluhur sangat penting untuk dijaga oleh setiap generasi Indonesia.
Salah satu contoh nyata kecintaan pada batik adalah yang ditunjukkan oleh seorang seniman dan kolektor batik, Dave Tjoa. Ia telah mendalami seni membatik dan menampilkan karya-karyanya dalam pameran bertajuk *Kukila Khatulistiwa* yang diadakan pada akhir Agustus lalu. Karya yang ditampilkan mengangkat tema oriental, yang merupakan kombinasi antara batik Jawa dan unsur budaya Tionghoa yang merupakan bagian dari warisan leluhurnya.
Minat Dave terhadap batik tidak terlepas dari latar belakang keluarganya, di mana batik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari nenek moyangnya. Dengan rasa cinta yang dalam terhadap motif batik, Dave telah menghabiskan waktu selama 24 tahun untuk mengumpulkan ratusan koleksi batik dan mempelajari makna serta filosofi di baliknya.
Memperdalam kecintaannya, Dave mengungkapkan ketertarikan khusus terhadap *Batik Tiga Negeri*. Batik ini menampilkan motif yang kompleks dan menggabungkan tiga tradisi batik yaitu dari Lasem, Pekalongan, dan Solo, yang masing-masing diwakili melalui warna yang khas. Pengaruh budaya Tionghoa yang kaya akan warna merah, warna biru indigo dari Belanda, dan coklat sogan dari Jawa menyatu dalam karya ini.
Untuk mengobati rasa ingin tahunya akan *Batik Tiga Negeri*, Dave melakukan perjalanan ke Yogyakarta dan mengunjungi Pasar Beringharjo. Di sanalah, ia semakin jatuh cinta terhadap batik dan terus memperdalam pengetahuannya. Seiring waktu, ia berkenalan dengan berbagai jenis kain batik, termasuk sogan, yang merupakan batik klasik dari Jawa yang identik dengan warna gelap dan berasal dari pohon soga.
Dave menceritakan bahwa kecintaan awalnya pada warna-warna cerah dari batik berangsur-angsur bergeser menjadi apresiasi terhadap sogan. Menurutnya, memahami dan mencintai tipe kain seperti sogan menunjukkan tingkatan pemahaman dan kedalaman rasa cinta yang lebih tinggi dibandingkan hanya terpikat oleh warna semata.
Selama 24 tahun mengumpulkan batik, Dave berhasil mendapatkan beberapa kain yang lebih dari 100 tahun dan berasal dari Juwana, Jawa Tengah. Dalam proses pengumpulan ini, ia belajar tentang betapa kaya dan bervariasinya budaya tekstil Indonesia serta tantangan yang dihadapi dalam pembuatan batik. Proses pembelajaran ini tidak selalu mudah, melainkan melalui berbagai kegagalan sebelum akhirnya Dave berhasil menciptakan koleksi batik oriental pertamanya.
Tepatnya, tema oriental dipilih bukan hanya sekadar mengekspresikan warisan budaya Tionghoa dalam bentuk batik, tetapi juga untuk menunjukkan rasa syukur akan tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan di Jawa. Dave berharap dapat menyampaikan pesan kepada masyarakat agar tidak melupakan akar budaya dan untuk lebih mencintai batik dalam berbagai aspek, dari mengenakannya hingga mempelajari serta membuatnya sebagai usaha melestarikan kekayaan budaya Indonesia.
ANTARA
Batik sebagai Warisan Budaya, Cinta dan Kecintaan dalam Membatik
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Karhutla di Belakang SMKN 3 Kuala Kapuas Merembet ke Bangunan Warga
Tokoh Lintas Agama Ingatkan Pentingnya Huma Betang dan Kerukunan di Kalteng
Kabinda Kalteng Ajak Tokoh Agama Edukasi Masyarakat Bijak Bermedia Sosial
Hari Santri Nasional Momentum Perkuat Komitmen Cetak Generasi Emas
Polda Kalteng Lakukan Penanaman Pohon di Bekas Lokasi Karhutla, Wujudkan Green Policing
Kebakaran di Sungai Andai Banjarmasin, Dua Rumah Terdampak
Komentar (0)
Memuat komentar…







