JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Mahasiswa dari Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) telah menciptakan inovasi yang dinamakan *Mas-Tion* (Mastitis *Detection*), sebuah robot yang dirancang untuk mendeteksi secara dini mastitis, yaitu peradangan pada jaringan kelenjar susu sapi. Inovasi ini memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin dan *Internet of Things* (IoT) sehingga dapat membantu peternak dalam menjaga kesehatan sapi perah mereka. Menurut Medhanita Dewi Renanti, pembimbing tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM KC) IPB, *Mas-Tion* bertujuan untuk memberikan solusi yang efektif dalam mendeteksi mastitis baik yang bersifat klinis maupun subklinis. Alat ini dirancang agar mudah digunakan oleh peternak, dengan harapan dapat meningkatkan produksi susu sapi perah dan menjaga kualitas susu yang dihasilkan di Indonesia. *Mas-Tion* terdiri dari dua perangkat utama, yaitu *Mas-Tion Cam* dan *Mas-Tion Vity*. *Mas-Tion Cam* berfungsi sebagai robot otonom yang dapat mendeteksi adanya mastitis klinis. Robot ini mampu mengenali gejala-gejala penting seperti kemerahan, pembengkakan, dan peningkatan suhu pada ambing sapi. Dilengkapi dengan kamera termal, alat ini dapat mengukur suhu ambing, serta webcam untuk mengambil gambar ambing secara langsung. Data yang diperoleh dari *Mas-Tion Cam* akan diolah lebih lanjut menggunakan teknik pembelajaran mesin, sehingga hasil analisis menjadi lebih akurat. Sementara itu, *Mas-Tion Vity* dirancang untuk mendeteksi mastitis subklinis dengan memanfaatkan sensor yang mengukur nilai konduktivitas susu. Data dari sensor tersebut akan dikirimkan ke aplikasi *Mas-Tion*, yang memungkinkan pengguna untuk melihat hasil deteksi dengan lebih mudah. Penggunaan perangkat ini sangat mudah. Untuk *Mas-Tion Cam*, peternak hanya perlu melakukan pemetaan kandang di awal penggunaan. Setelah terhubung dengan aplikasi, pengguna bisa mengendalikan robot tersebut dengan bantuan pengontrol yang tersedia di aplikasi. Sesudah pemetaan selesai, *Mas-Tion Cam* akan berfungsi secara otomatis setiap harinya. Sedangkan untuk *Mas-Tion Vity*, pemakai hanya perlu mencelupkan sensor ke dalam sampel susu sebelum proses pemerahan. Tingkat akurasi dari alat ini cukup mengesankan, mencapai 96 persen untuk *Mas-Tion Vity* dan 98 persen untuk *Mas-Tion Cam*. Tim Vokasi IPB yang terlibat dalam inovasi ini terdiri dari beberapa anggota, antara lain Rizal Hakim sebagai Project Coordinator, Aditya Rieyza Munif sebagai Technical Artisan, Dhiyaurrahman Hamizan Haikal Putra yang berperan sebagai desainer dan social media strategist, Dzaky Fahri Hadafi sebagai programmer, serta Ukasyah Muhammad Syafiq dalam posisi public relation. Mereka berhasil mendapatkan pendanaan untuk melanjutkan inovasi ini hingga ke tahap Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. Mengingat produksi susu nasional Indonesia hanya sebesar 837.223,20 ton, dibandingkan dengan kebutuhan yang mencapai 4,5 juta ton, sangat jelas bahwa Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 19 persen dari total kebutuhan susu. Untuk sisa 81 persennya, Indonesia masih harus bergantung pada impor. Medhanita berharap, dengan adanya inovasi ini, mereka dapat memperoleh dukungan dari berbagai pihak untuk pengembangan lebih lanjut. Tujuannya ialah agar *Mas-Tion* dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi industri peternakan sapi perah di tanah air. ANTARA