JAKARTA –
**Borneonews - Yogyakarta**, Regenerasi relawan yang tergabung dalam Desa Tangguh Bencana (Destana) di Yogyakarta saat ini menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya penanganan bencana. Tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan pelestarian semangat juang, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keberlanjutan program yang telah ada. Dalam sebuah pernyataan, Kepala Desa Argomulyo, Kecamatan Caringin, Sleman, DIY, Danang Hendri Bintoro, menjelaskan bahwa sebagian besar relawan di wilayahnya memiliki ketahanan yang tinggi karena mereka merupakan saksi dan korban erupsi Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010. Peristiwa tragis yang merenggut 353 nyawa tersebut memberikan dampak emosional dan pengalaman berharga yang membentuk komitmen mereka. Oleh karena itu, relawan Destana Argomulyo berhasil mendapatkan pengakuan sebagai Destana terbaik di DIY pada tahun 2018. Salah satu relawan, Supriyono, yang sehari-hari bekerja sebagai petani dan turut merasakan dampak erupsi dengan kehilangan 14 anggota keluarganya, mengakui bahwa meskipun pembentukan Destana relatif mudah, menjadikannya sebagai lembaga yang tangguh memerlukan usaha yang lebih. Dia menambahkan bahwa desa tangguh, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), harus mampu mengenali dan memahami ancaman yang ada serta mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas dalam menghadapi bencana. Destana Argomulyo, lanjut Supriyono, sering dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai daerah, bahkan internasional, seperti Singapura dan Australia. Menurutnya, tantangan terbesar adalah mendorong relawan untuk bersikap tulus dalam upaya mengurangi risiko bencana tanpa mengharapkan imbalan. Hal ini juga ditambahkan oleh relawan lainnya, Partono, yang kehilangan tiga anggota keluarganya, bahwa pengakuan dari Tuhan adalah motivasi utama bagi para relawan. Dalam pandangannya, relawan harus siap meluangkan waktu 24 jam sehari tanpa mengharapkan gaji atau imbalan. Supriyono juga menceritakan bagaimana dukungan dari masyarakat terhadap relawan semakin meningkat. Kini, setiap kali terjadi musibah, seperti kecelakaan, perayaan, orang hilang, atau kebutuhan mendesak akan donor darah, warga meminta bantuan mereka. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam peran masyarakat yang sebelumnya hanya sebagai penonton pasif. Sejak tahun 2012, interaksi antara relawan dan PKPU, yang kini dikenal dengan nama Human Initiative (HI), telah membantu mengubah pola pikir masyarakat, dari sekadar menonton menjadi menjadi relawan yang peduli dan aktif. Selain itu, HI juga berfokus pada pengajaran kepada anak-anak melalui lembaga pendidikan seperti Bianglala Kindergarten. Kepala TK Bianglala, Novitasari Dyah, yang memiliki pengalaman 11 tahun dalam pendidikan, menjelaskan bahwa kerjasama dengan HI dimulai untuk menyalurkan bantuan sosial kepada mereka yang membutuhkan. Pelatihan dan evaluasi yang diberikan oleh HI mengajarkan anak-anak untuk memahami pentingnya mitigasi bencana, dengan menyediakan beragam alat peraga dan jalur evakuasi yang mudah dipelajari. Selama proses simulasi mitigasi bencana, anak-anak di TK Bianglala melakukannya dengan penuh semangat dan antusiasme. Mereka bahkan meminta agar simulasi tersebut diulang karena merasa senang. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai potensi untuk menjadi relawan di masa mendatang, kata Ade Lukman dari HI Jakarta. Ade menekankan bahwa bencana seringkali tidak dapat diprediksi, sehingga penting untuk meningkatkan pengetahuan mengenai penanganan kebencanaan. Dalam rangka menyambut bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2024 mendatang, dia mengajak masyarakat untuk lebih meningkatkan awareness dan pengetahuan mungkin ini bisa diakses melalui situs web human-initiative.org. ANTARA