BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kondisi kelistrikan di Kotawaringin Barat (Kobar) kembali labil. Dalam tiga hari terakhir padam listrik mendadak berulang kali terjadi. Baik siang maupun malam hari. Hal itu memicu gelombang protes dan keluhan bernada negatif dari masyarakat. Sementara, sejumlah pembangkit listrik pemasok daya PLN di Kobar mengalami gangguan operasi produksi listrik.
Warga Pangkalan Bun, Riema melalui akun media sosialnya berkelakar bahwa padam listrik yang terjadi secara mendadak tak tentu waktu di Kobar itu merupakan salah satu hadiah istimewa bagi warga Pangkalan Bun dan sekitarnya. Lantaran padam listrik tiga kali dalam 24 jam terakhir itu terjadi di hari yang sangat istimewa, yakni di hari peringatan 71 Tahun Kemerdekaan RI, Rabu (17/8/2016).
"Mati listrik sehari ini udah 3x...horeeee itu jg salah satu hadiah buat kita dihari kemerdekaan.. #Gara2matihidupmatihiduplistriknya...magiccom rusak dan hrus beli baru," ujar Riema beironi dalam akun facebook, Rabu (17/8/2016).
Manager PLN Rayon Pangkalan Bun Purwanto mengatakan, padam listrik mendadak di Kobar terjadi akibat adanya gangguan operasi produksi di beberapa pembangkit listrik di Kobar, yaitu, di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) milik PT Kaltimex dan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT Exploitasi Energi Indonesia (EEI). Mesin-mesin di dua pembangkit tersebut di antaranya tak mampu beroperasi secara maksimal dan mengalami kerusakan atau butuh perbaikan.
"Barusan mesin sewa PLTD PT Kaltimex, 2 unit trip. Kemudian di PLTU PT EEI, unit 2 mengalami gangguan chain gride dan unit 1 drop dayanya," terang Purwanto, Rabu (17/8/2016).
Sebelumnya, pada Minggu (14/8) malam lalu, produksi daya listrik di PLTU PT EEI juga mengalami gangguan. Mengakibatkan daya yang diproduksi PLTU dan disuplai ke jaringan listrik PLN berkurang dari biasanya. Selain PLTU, beberapa waktu sebelunya, sejumlah pembangkit listrik lain di Kobar juga alami gangguan. Salah satunya di Pembangkit Listrik Tenaga Bio Massa (PLTBm) PT Korintiga Hutani, yang mengalami gangguan produksi akibat persoalan bahan bakar. (RADEN ARYO/m)








