PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk bersama Yayasan BOSF kembali melepasliarkan dua individu orangutan yang telah menyelesaikan tahap rehabilitasi di Sekolah Hutan pada Rabu, 2 Oktober 2024. Kedua orangutan ini akan melanjutkan ke tahap pra-pelepasliaran di Pulau Badak Besar, bagian dari Gugusan Pulau Salat, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Dengan bertambahnya dua individu ini, jumlah orangutan di Pulau Salat kini mencapai 42 individu. SSMS dan Yayasan BOSF memindahkan dua orangutan yang telah menjalani masa rehabilitasi di Sekolah Hutan Nyaru Menteng. Proses rehabilitasi yang cukup lama ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka menjalani tahap akhir sebelum dilepasliarkan ke hutan. Kedua orangutan yang dipindahkan terdiri dari satu jantan dan satu betina, yang kini dinilai siap untuk menjalani tahap selanjutnya di pulau pra-pelepasliaran orangutan di Pulau Badak Besar.

Gugusan Pulau Salat, yang terletak di delta Sungai Kahayan, dikelola bersama oleh SSMS dan BOSF sebagai wilayah konservasi orangutan di Kalimantan Tengah. Wilayah ini memiliki luas lebih dari 2.000 hektar dan dipilih karena ekosistem hutannya menyerupai habitat asli orangutan.

Survei menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki hutan berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, dan tidak teridentifikasi memiliki populasi orangutan liar. Selain itu, kawasan ini cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi dan sosialisasi orangutan, serta memiliki ketersediaan pakan yang cukup.

Pulau Badak Besar, sebagai bagian dari Gugusan Pulau Salat, dinilai dapat memberikan kesempatan bagi orangutan rehabilitasi untuk mematangkan instingnya secara mandiri di hutan. Pulau ini juga aman karena para orangutan dipantau penuh oleh para teknisi yang berdedikasi. Periode pra-pelepasliaran umumnya berlangsung selama satu sampai dua tahun sebelum orangutan dinilai siap dilepasliarkan ke habitat asli.

--page

Setelah pemindahan ini, total orangutan yang ada di Pulau Badak Besar akan menjadi 42 individu. Di sini, mereka mengembangkan semua keterampilan berburu, menyintas, dan mengasah perilaku alami sampai kelak saatnya kembali ke hutan sejati. Kepedulian terhadap orangutan bukan hanya sekedar komitmen SSMS, melainkan juga sebagai pembuktian kepada dunia bahwa Perseroan sangat konsen dengan keberlanjutan.

Direktur Utama SSMS, Jap Hartono menyatakan bahwa melindungi orangutan merupakan bukti komitmen perusahaan dalam menjaga sesama makhluk hidup.

"Menjaga kelestarian lingkungan dan habitatnya adalah salah satu dari berbagai program keberlanjutan yang dijalankan oleh SSMS," kata Jap Hartono.

Dengan sinergi bersama Yayasan BOSF, SSMS berharap dapat terus memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. (TESTI PRISCILLA/y)