BORNEONEWS, Tamiang Layang - Di sudut-sudut pelosok Provinsi Kalimantan Tengah, ribuan keluarga yang selama ini hanya bisa berharap, kini memiliki alasan untuk tersenyum. Bukan tanpa sebab, pada tahun 2024, sebanyak 6.205 rumah tangga di wilayah ini ditargetkan menerima bantuan pemasangan listrik gratis dari pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bekerja sama dengan Komisi VII DPR RI.
Darwento (33), seorang warga Desa Puri, Kabupaten Barito Timur, adalah salah satu penerima manfaat dari program yang dinanti-nantikan ini. Baginya, listrik gratis tidak sekadar penerangan, tetapi pintu menuju kehidupan yang lebih layak.
"Dengan adanya listrik, kami bisa menyalakan televisi, mesin cuci, dan mesin air. Ini sangat membantu kehidupan sehari-hari," ujarnya penuh syukur, saat diwawancarai, Kamis, 3 Oktober 2024.
Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) ini telah berjalan sejak 2022 dan kini memasuki tahun ketiganya. Bagi masyarakat yang sebelumnya harus berbagi sambungan dengan tetangga atau bahkan bergelap-gelap di malam hari, listrik menjadi simbol perubahan. Hadi Saputra (37), seorang petani karet yang juga mendapatkan bantuan, merasakan perbedaannya.
“Selama ini kami numpang listrik ke tetangga dan membayar iuran. Dengan bantuan ini, kami tidak perlu lagi khawatir,” jelas ayah tiga anak ini, tersenyum penuh harap.
--page
Program ini bukan hanya menyalakan lampu di rumah-rumah warga. Sebelumnya, Didit Waskito, Koordinator Usaha Penunjang Ketenagalistrikan di Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa BPBL juga membawa dampak yang lebih luas.
“Kami ingin mengurangi sambungan ilegal yang seringkali membahayakan warga. Dengan sambungan listrik yang resmi, masyarakat tidak hanya mendapatkan akses, tetapi juga jaminan keselamatan,” ujarnya.
Dalam penerapannya, BPBL memastikan bahwa perusahaan penyambung listrik memiliki akreditasi yang sah dan teknisi tersertifikasi, sehingga keamanan dan kualitas tetap terjaga.
Di balik angka-angka besar seperti 150.000 rumah tangga se-Indonesia yang menjadi target BPBL, tersimpan kisah perjuangan di wilayah-wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Anggota Komisi VII DPR RI, Iwan Kurniawan, mengingatkan bahwa listrik adalah kebutuhan vital bagi masyarakat.
“Pemenuhan listrik di wilayah 3T masih menjadi pekerjaan rumah yang harus kita tuntaskan. Dengan program BPBL, kami ingin memastikan keadilan akses listrik bagi semua lapisan masyarakat,” ujar Iwan melalui rekaman video saat sosialisasi BPBL Kalimantan Tengah di Desa Puri beberapa hari lalu. Dia memberikan pesan yang jelas bahwa listrik adalah hak, bukan kemewahan.
Bagi Kabupaten Barito Timur, program ini disambut dengan penuh antusiasme. Amrullah, Asisten II Sekda Barito Timur, Bidang Ekonomi dan Pembangunan, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya memberikan cahaya bagi rumah tangga, tetapi juga harapan baru bagi perekonomian masyarakat.
--page
“Kami berharap program ini dapat mendorong usaha kecil dan menengah yang akan berdampak pada peningkatan ekonomi warga,” tutur Amrullah dengan optimisme.
Sementara itu, Ahmad Syauki, General Manager PT PLN (Persero) UID Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, menegaskan bahwa program ini harus dimanfaatkan secara produktif oleh rumah tangga penerima manfaat.
“Gunakan listrik untuk kegiatan yang memberikan manfaat besar bagi keluarga dan masyarakat,” pesan Syauki, memberi semangat bagi para penerima manfaat untuk tidak hanya menikmati listrik, tetapi juga memanfaatkannya untuk meningkatkan taraf hidup.
Di tengah gelap yang perlahan diterangi oleh cahaya harapan, program listrik gratis ini bukan sekadar bantuan materi. Ia adalah simbol perubahan, sebuah langkah kecil yang akan mengantarkan ribuan keluarga menuju masa depan yang lebih cerah.
Bagi Darwento, Hadi dan ribuan warga lainnya di Kalimantan Tengah, listrik bukan hanya lampu di rumah mereka, tetapi tentang juga menyalakan asa. (AGUSTINUS BOLE MALO/Y)









