JAKARTA –
**Borneonews - Hamilton, Kanada**, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa keputusan Israel untuk menjadikan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, sebagai *persona non-grata* adalah sebuah "serangan lain terhadap staf PBB" yang dilakukan oleh pemerintah Tel Aviv. Pernyataan itu disampaikan pada Rabu, 2 Oktober, oleh juru bicara PBB, Stephane Dujarric. Dujarric mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh anggota Dewan Keamanan PBB terhadap Guterres dalam sidang yang membahas mengenai situasi di Timur Tengah. Ia menambahkan, "Kami telah melihat pengumuman ini yang kami anggap sebagai pernyataan politik dari Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu." Juru bicara tersebut menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan "serangan lain terhadap staf PBB yang telah kami saksikan dari pihak Pemerintah Israel." Meski demikian, ia meyakinkan bahwa PBB akan tetap berusaha untuk menjalin kerja sama dan komunikasi dengan Israel dalam "berbagai tingkat operasional." Dujarric juga menyikapi istilah *persona non-grata* yang sebelumnya digunakan oleh negara-negara lain terhadap staf PBB lainnya, ia menegaskan bahwa PBB tidak mengakui konsep tersebut berlaku untuk anggotanya. "Kami lebih melihat pengumuman ini sebagai pernyataan politik, bukan pernyataan hukum," ujarnya, dengan mengingatkan bahwa Guterres hanya mengunjungi negara tertentu berdasarkan undangan resmi. Selama menjalani kariernya selama 24 tahun, Dujarric menyatakan bahwa ia belum pernah menghadapi situasi seperti yang kini dialami Guterres. Ia mencatat, "Mungkin pernah terjadi ketegangan yang signifikan antara sekretaris jenderal dan negara anggota, tetapi saya tidak mengingat pernah mendengar istilah seperti ini sebelumnya." Sebelumnya, Pemerintah Israel telah mengumumkan bahwa Antonio Guterres dinyatakan sebagai *persona non grata*, yang mengakibatkan larangan masuk ke negaranya setelah ia menyerukan deeskalasi segera di kawasan Timur Tengah. Sebagai respons terhadap keputusan tersebut, Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa Guterres tidak menyampaikan "kutukan yang tegas" terhadap Iran menyusul serangan rudal yang dilancarkan ke Israel pada Selasa, 1 Oktober. Setelah serangan itu, Guterres mengungkapkan bahwa ia "mengutuk meluasnya konflik Timur Tengah dengan eskalasi yang terus berlanjut" dan mendesak perlunya gencatan senjata segera. ANTARA