JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Lebih dari 700.000 warga Haiti, termasuk anak-anak, terpaksa mengungsi dari tempat tinggal mereka akibat krisis kemanusiaan yang semakin memburuk dan meningkatnya tindakan kekerasan geng. Organisasi Internasional untuk Migrasi (*IOM*) melaporkan, jumlah pengungsi internal mengalami peningkatan signifikan sebesar 22 persen dibandingkan dengan bulan Juni lalu. Laporan terbaru menyebutkan bahwa lebih dari setengah dari 700.000 orang yang mengungsi adalah anak-anak. Peningkatan jumlah pengungsi ini mencerminkan betapa kritisnya situasi kemanusiaan di negara tersebut. Dalam pernyataannya, *IOM* menekankan bahwa data terbaru menunjukkan adanya tren yang mengkhawatirkan terkait jumlah masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Dalam kurun waktu tujuh bulan terakhir, lebih dari 110.000 orang telah melarikan diri dari rumah mereka akibat kekerasan yang dilakukan oleh geng kriminal, khususnya di daerah Gressier. Sebagian besar pengungsi, sekitar 75 persen, kini mencari perlindungan di berbagai provinsi di Haiti, sementara wilayah Grand Sud tercatat menampung 45 persen dari total pengungsi yang ada. Haiti telah lama dilanda dengan berbagai krisis sosial, ekonomi, dan politik, yang semakin memperburuk situasi pasca pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada tahun 2021. Negara ini kini berhadapan dengan peningkatan kekerasan geng yang sangat memprihatinkan, termasuk tindak pemerasan dan penculikan yang marak terjadi di masyarakat. ANTARA