BORNEONEWS, Seruyan - Sejumlah petani karet di Desa Bangkal Kecamatan Seruyan Raya gedung terus merugi dalam lima tahun terakhir. Harga komoditas yang dihasilkan dari tanaman itu terus merosot sementara biaya produksi relatif tinggi. 

Ahim (40) adalah petani yang terpukul atas turunya harga karet akhir akhir ini.  “Semula, saya berharap penghasilan saya akan makin meningkat dari tanaman karet uang selama ini saya rawat dengan susah payah. Tapi enggak tahunya harganya bukannya naik malah terus merosot,” katanya, Rabu (17/8/2016)

Begitu pula dengan Sutrisno, yang semula tertarik dan sempat ikut-ikutan dengan menanam karet di atas lahannya yang cuma satu hektere.

“Saya pesimistis masa depan komoditas itu membaik.” ujarnya

Pengakuan sejumlah petani, berdasarkan informasi yang didapat dari petani daerah lain, misalnya Desa Tabiku dan Desa Terawan, harga getah karet kering hanya Rp.5500/kg sedang yang basah Rp.4000/kg. Padahal, sekitar tujuh hingga sepuluh tahun silam, harganya sempat berkisar antara Rp10 ribu/kg dan Rp15 ribu/kg, bahkan lebih.

Para petani bisa menyadap setiap pekan sekali dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp 5 juta per hektare. Tapi, jumlah itu terus merosot sehingga saat ini menjadi tinggal Rp1 juta per hektare. 

“Itupun, kita mesti kerja keras untuk mencari pembeli yang mau membeli dengan harga yang tertinggi,” jelas Sutrisno.

Dikatakannya, komoditas yang puluhan tahun menjadi andalan namun harganya terus memburuk bahkan sangat tidak mampu menutupi biaya perawatan.

"Saat ini, lantaran harga karet tak kunjung membaik, sebagian petani mencari alternatif pekerjaan lain, untuk biaya kehidupan sehari-hari," katanya. (UNTUNG WAHYUDI/m)