JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa program Kartu Prakerja telah menjadi model kebijakan ketenagakerjaan yang banyak dijadikan rujukan oleh berbagai negara. Airlangga menjelaskan bahwa beberapa negara, termasuk Kamboja, mengadopsi sistem yang sama dengan Kartu Prakerja untuk memberikan manfaat kepada 1,5 juta tenaga kerja. Tidak hanya Kamboja, negara-negara lain seperti Thailand, Maroko, dan Negara Bagian Serawak juga kini tengah mempelajari dan berencana untuk mengimplementasikan program serupa. Sejak diluncurkan lima tahun lalu, program Prakerja telah memberikan dampak positif bagi 18,9 juta orang penerima. Program ini dirancang secara inklusif, yang berarti bahwa kelompok-kelompok rentan seperti perempuan, keluarga yang hidup dalam kemiskinan, penyandang disabilitas, serta masyarakat dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) juga mendapatkan perhatian dan dukungan. Setiap peserta program memperoleh beasiswa pelatihan senilai Rp3,5 juta, yang dapat digunakannya untuk mengikuti beragam pelatihan, baik secara *online* melalui webinar, langsung di lokasi, maupun melalui pembelajaran mandiri. Semua pelatihan ini tersedia dalam ekosistem Prakerja. Melihat efisiensi dan hasil yang diperoleh dari program ini, Kemenko Perekonomian berharap agar penerus pemerintah tetap melanjutkan inisiatif Kartu Prakerja. Namun, keputusan resmi mengenai kelanjutan program ini akan diumumkan oleh pemerintah yang baru. Airlangga menyarankan bahwa hingga saat ini, diskusi tentang masa depan Kartu Prakerja masih berlangsung. "Sebagian besar program ini akan dibahas, dan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025, kami sudah menyiapkan alokasi untuk mendukung hal tersebut. Namun, pembicaraan mengenai ini masih dilanjutkan," ungkapnya. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja, Denni Puspa Purbasari, menuturkan bahwa program ini tidak hanya ditujukan untuk mengatasi pengangguran, tetapi juga memberikan dukungan bagi mereka yang sudah memiliki pekerjaan namun ingin beralih karier atau memulai usaha. Menurutnya, data menunjukkan bahwa 61 persen peserta Prakerja adalah orang yang tidak bekerja, sementara 39 persen lainnya sudah bekerja. Menariknya, setelah mengikuti pelatihan selama dua bulan, terdapat perubahan signifikan di mana jumlah peserta yang telah bekerja atau memulai usaha meningkat menjadi 55 persen. Ini menunjukkan bahwa program Prakerja berkontribusi dalam memperbaiki kondisi tenaga kerja di Indonesia. ANTARA