JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Direktur Layanan Keuangan dan BUMN Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Rosy Widyawati, mengungkapkan bahwa konsumsi produk halal di tingkat global diperkirakan akan mencapai angka sebesar USD 3,1 triliun pada tahun 2027. Widyawati menyatakan bahwa pengeluaran umat Muslim untuk produk-produk syariah, termasuk makanan dan minuman, fashion halal, kosmetik halal, serta berbagai jenis produk lainnya, menunjukkan potensi yang menjanjikan. "Diharapkan bahwa nilai belanja ini akan mencapai USD 3,1 triliun pada tahun 2027," tambahnya pada siaran langsung di YouTube yang bertema *Acceleration Towards Golden Indonesia 2024 with MEKSI*. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya pemerintah dalam mengoptimalkan potensi ekonomi syariah melalui penyusunan Rencana Induk Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2025-2029. Menurut Widyawati, pengembangan ekonomi syariah dianggap sebagai mesin pertumbuhan baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara rata-rata antara enam hingga tujuh persen, sehingga Indonesia bisa bertransformasi menjadi negara maju. Guna mencapai target tersebut, Widyawati menggarisbawahi pentingnya bagi Indonesia, yang merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, untuk berperan sebagai produsen, bukan hanya konsumen. Ia menyoroti kenyataan bahwa negara-negara yang saat ini menjadi eksportir terbesar produk halal justru datang dari negara-negara non-Muslim, seperti Brasil, Cina, dan India. "Di masa mendatang, kita harus menjadi produsen dan mampu mengekspor," tegasnya. Selain mempersiapkan MEKSI 2025-2029, Widyawati juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengembangkan ekonomi syariah berdasarkan Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 mengenai Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) untuk tahun 2025-2045, yang dituangkan pada tanggal 13 September. Dalam dokumen RPJPN, pengembangan ekonomi syariah menjadi salah satu program prioritas terpisah untuk mempercepat kemajuan sektor ini, termasuk melalui hilirisasi industri halal dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat meningkatkan nilai ekspor. Selain itu, Widyawati menekankan pentingnya pengembangan program untuk meningkatkan jumlah wisatawan Muslim melalui perbaikan fasilitas dan infrastruktur yang ramah bagi wisatawan Muslim. "Kita juga memiliki sektor fashion. Aspek ini harus didukung karena kami percaya fashion dapat memberikan kontribusi yang signifikan," pungkasnya. ANTARA