JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Deputi III Bidang Perekonomian Kepala Staf Kepresidenan Edy Priyono menegaskan bahwa *Foreign Direct Investment* atau investasi asing sangat penting bagi Indonesia. Dalam sebuah seminar yang bertajuk “Evaluasi 1 Dekade Pemerintahan Jokowi” yang berlangsung di Jakarta, Edy menyebutkan bahwa ada berbagai pandangan dalam masyarakat terkait investasi asing, dan ia merasa perlu menjelaskan signifikansinya. Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan terhadap investasi asing tidak semata-mata merupakan pilihan, namun lebih kepada suatu kebutuhan. Kondisi tersebut terjadi karena terdapatnya jarak antara kebutuhan investasi dan tabungan dalam negeri, yang dalam istilah ekonomi dikenal sebagai *saving investment gap*. Edy menjelaskan, seharusnya investasi di dalam suatu perekonomian berasal dari *saving*, yaitu dana yang disimpan oleh masyarakat di lembaga keuangan. Uang yang tersimpan tersebut kemudian dipinjamkan oleh bank dalam bentuk kredit untuk mendanai berbagai proyek investasi. Idealnya, harus ada keseimbangan yang baik antara *saving* dan *investment*. Namun, di Indonesia situasi ini tidak seimbang, di mana kebutuhan investasi jauh melebihi jumlah tabungan yang tersedia. Oleh karena itu, ketika sumber daya finansial domestik tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, kehadiran investasi asing menjadi sangat krusial. Dalam rentang waktu satu dekade terakhir, investasi asing langsung di Indonesia menunjukkan angka yang signifikan, mulai dari 28,53 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun 2014, 29,27 miliar dolar AS di tahun 2015, dan mencapai 50,26 miliar dolar AS pada tahun 2023. Negara-negara yang menjadi penyumbang investasi asing terbesar di Indonesia meliputi Singapura, Malaysia, Hong Kong, Jepang, Amerika Serikat, Belanda, dan Korea Selatan. Investasi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan ekonomi serta menciptakan lapangan kerja di Tanah Air. ANTARA