SAMARINDA –
**Borneonews - Kutai Timur**, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur segera mengambil langkah untuk menangani insiden kebakaran yang melanda gedung SMK Swasta Islam Nurul Hikmah di Sangatta pada Kamis, 3 Oktober, sekitar pukul 02.00 Wita. Kebakaran tersebut terjadi saat pihak sekolah sedang mengikuti diskusi yang diselenggarakan oleh Disdikbud Provinsi Kalimantan Timur di Balikpapan. Kepala Cabang Disdikbud Kaltim untuk wilayah Bontang-Kutim telah berada di lokasi untuk melakukan inventarisasi dan evaluasi terhadap kerusakan yang ditimbulkan akibat kebakaran. Irhamsyah, Pelaksana Tugas Kepala Disdikbud Kaltim, menyatakan bahwa satuan pendidikan sangat perlu segera mendapatkan solusi. Untuk itu, pihaknya memprioritaskan pencarian lokasi alternatif yang dapat digunakan untuk proses belajar mengajar agar siswa tidak terlalu lama terhambat dalam kegiatan belajar mereka. Selain upaya tersebut, Disdikbud Kaltim berkomitmen untuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam penggantian ijazah yang juga hangus terbakar dalam peristiwa ini. "Ada prosedur yang harus diikuti untuk mendapatkan keterangan pengganti ijazah. Pihak berwenang, seperti kepolisian, akan mengeluarkan pernyataan bahwa ijazah tersebut memang terbakar," jelas Irhamsyah. Terkait dengan bantuan yang diperlukan, Irhamsyah menekankan pentingnya laporan awal mengenai kebutuhan sekolah pasca kebakaran. "Misalnya, jika ada keperluan untuk alat tulis kantor, kita akan berusaha untuk memberikan bantuan," tambahnya. Akhmad Yamsyi, Kepala SMK Swasta Islam Nurul Hikmah, memperkirakan total kerugian akibat kebakaran mencapai sekitar Rp5 miliar. Ia merinci kerusakan yang terjadi, termasuk tujuh ruang kelas, ruang laboratorium komputer, 350 unit meja kursi siswa, kantor, ruang untuk guru, perangkat keras seperti 30 unit komputer, 2 unit mesin fotokopi, serta dokumen penting termasuk ijazah dari tahun 2008 hingga 2023. Selain itu, sejumlah buku perpustakaan, jaringan listrik, saluran internet (*wifi*), alat olahraga, fasilitas kantin, serta uang tunai sekitar Rp100 juta yang disimpan dalam brankas untuk persiapan gaji guru dan biaya operasional juga hilang dalam peristiwa tersebut. Yamsyi meminta dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk komite sekolah, masyarakat umum, serta pemerintah setempat. Dia menekankan bahwa kebutuhan mendesak saat ini adalah tempat untuk belajar serta pengadaan kantor, di samping biaya untuk gaji guru dan operasional sekolah. Ia juga mengajak masyarakat serta lembaga-lembaga, baik perusahaan swasta maupun instansi pemerintah, untuk memberikan sumbangan baik dalam bentuk dana maupun barang, seperti meja kursi bekas yang dapat digunakan. "Semoga semua bantuan yang diberikan dapat dicatat sebagai amal ibadah," harap Yamsyi. ANTARA