BANJARMASIN –
**Borneonews - Banjarbaru**, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang berlokasi di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) merespons peningkatan suhu yang cukup signifikan dalam lima dekade terakhir dengan cara memberikan edukasi kepada masyarakat melalui penyebaran informasi cuaca yang intensif. Dalam sebuah keterangan yang disampaikan secara virtual pada konferensi pers mengenai Prediksi Musim Hujan 2024/2025, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kalsel, Goeroeh Tjiptanto, mengungkapkan bahwa peningkatan suhu yang tercatat dari tahun 1954 hingga 2023 telah terjadi di sejumlah wilayah. Fenomena perubahan iklim ini tidak dapat dipandang remeh, dan bukan sekadar kabar yang diperbincangkan tanpa dasar ilmiah, melainkan berdasarkan indikator yang secara rutin diumumkan oleh pihaknya. Goeroeh menjelaskan, BMKG secara konsisten menyediakan informasi cuaca terkini melalui berbagai platform, baik itu melalui situs resmi, media sosial resmi BMKG, maupun lewat media massa. Ia menekankan pentingnya akurasi dalam setiap informasi yang disampaikan, termasuk prediksi bulanan dan dasarian yang menjadi rujukan bagi masyarakat. Harapannya, langkah tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran publik mengenai kondisi cuaca yang akan datang. Dia menambahkan bahwa dengan semakin tersedianya informasi cuaca yang jelas dan terperinci, potensi bencana dapat diminimalisir melalui upaya mitigasi yang lebih baik oleh berbagai pihak yang terlibat. Sementara itu, Prakirawan dari Stasiun Klimatologi Kelas I BMKG Kalsel, Wiji Cahyadi, menginformasikan bahwa berdasarkan indikator terbaru, wilayah Kalsel terdiri dari 12 zona musim (ZOM) yang ditetapkan dengan tipe Monsunal-2. Dia merincikan bahwa di provinsi ini terdapat dua musim yang bergantian, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Tahun ini, musim kemarau mulai terjadi pada bulan Juni-Juli, dan sekitar 75 persen dari ZOM mengalami kemunduran musim kemarau lebih lambat dari kondisi normal, sesuai dengan prediksi yang dikeluarkan BMKG pada bulan April 2024. Mengenai peningkatan suhu yang kian terasa dari tahun ke tahun, Wiji menyatakan bahwa berdasarkan *Oceanic Nino Index*, fenomena El Nino dengan tingkat kekuatan yang signifikan telah teridentifikasi sejak tahun 1957. Dia menjelaskan bahwa kondisi El Nino dengan kategori 'kuat' terjadi pada periode 1957-1958, 1965-1966, 1972-1973, 1987-1988, 1991-1992, serta selama tahun 2023-2024. Di samping itu, periode yang dinyatakan dengan kategori 'sangat kuat' berlangsung pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Dengan upaya bersama dalam memahami dan merespons perubahan iklim, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai tantangan yang dihadirkan oleh fluktuasi cuaca. ANTARA