JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menggarisbawahi potensi besar yang dimiliki oleh industri daur ulang dalam mendukung ekonomi sirkular di Indonesia. Dalam acara peresmian *The Circular Fashion Partnership Indonesia* pada hari Kamis, Deputi Bidang Ekonomi Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa industri daur ulang tidak hanya membawa peluang ekonomi yang signifikan dari hulu hingga hilir, tetapi juga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang substansial. Amalia menyatakan, "Potensi ekonomi yang dimiliki oleh industri daur ulang sangat luar biasa, dimulai dari para pemulung yang akan mendapatkan pekerjaan dan nilai tambah. Selain itu, ada para pengumpul, penggiling, pekerja pabrik, dan lain-lain. Potensi pasar ekspor juga akan terpengaruh." Lebih jauh, Widyasanti mengungkapkan bahwa dalam industri daur ulang, diperkirakan akan ada serapan tenaga kerja untuk pemulung mencapai tiga juta orang; pengumpul, 120 ribu; penggiling, 40 ribu; pekerja pabrik, 100 ribu; penjualan produk daur ulang, 60 ribu; dan sektor industri terkait, sebanyak 40 ribu. Nilai yang dapat dihasilkan oleh industri ini diperkirakan mencapai Rp5,15 triliun. Selain itu, potensi ekspor juga ada, mengingat saat ini China telah menutup pabrik daur ulang plastik dengan kapasitas sembilan juta ton per tahun. Amalia juga menekankan pentingnya pengembangan ekosistem yang memadai untuk mendukung industri daur ulang, terutama di sektor tekstil. Hal ini mencakup pengumpulan pakaian bekas, pengambil di pasar, hingga pengelolaan lokasi. Selain itu, dia menekankan perlunya berkelanjutan dalam mendorong ekonomi sirkular di sektor industri tekstil agar dapat meningkatkan pendapatan per kapita dan memperluas kesempatan kerja. Amalia juga menegaskan bahwa memberikan pendapatan per kapita yang lebih baik bagi masyarakat merupakan prioritas utama pemerintah saat ini. “Dengan mendukung praktik ekonomi sirkular dalam industri tekstil, saya yakin ini bisa meningkatkan pendapatan per kapita serta menciptakan lapangan kerja. Ini adalah pekerjaan yang ramah lingkungan, dan pada saat yang sama kita juga dapat meningkatkan pendapatan mereka,” tambah Amalia. ANTARA