JAKARTA –
**Borneonews - Batang, Jawa Tengah**, Direktur Utama PT Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Ngurah Wirawan, telah menginformasikan bahwa proses penetapan fasilitas industri yang dikelola oleh pihaknya menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Jawa Tengah kini berada dalam tahap menunggu Peraturan Pemerintah (PP) yang harus ditandatangani oleh Presiden. Dalam pernyataan yang disampaikan di Batang, Jawa Tengah, pada hari Kamis, Ngurah menjelaskan bahwa berdasarkan keputusan dari Dewan Nasional KEK, KIT Batang telah ditetapkan untuk termasuk dalam kawasan ekonomi khusus yang ada di Indonesia. Dia menegaskan bahwa semua persyaratan yang dibutuhkan untuk proses tersebut telah disiapkan dengan baik. “Dalam konteks KEK Batang, sesungguhnya seluruh prinsipnya sudah diputuskan oleh Dewan Nasional KEK. Namun, kami saat ini masih menunggu untuk penandatanganan Peraturan Pemerintah oleh Presiden. Dari segi administrasi, semua syarat yang diperlukan sudah lengkap,” ujar Ngurah. Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa saat ini, KIT Batang telah memiliki 21 *tenant* atau perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut, dengan total nilai investasi yang tercatat mencapai Rp16 triliun. Menteri Investasi yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menambahkan bahwa penandatanganan Peraturan Pemerintah tersebut akan segera terwujud. “Insya Allah prosesnya akan dilakukan dalam waktu dekat,” katanya. Situs resmi pemerintah mengenai Kawasan Ekonomi Khusus menjelaskan berbagai keuntungan yang dapat diperoleh jika suatu wilayah ditetapkan sebagai KEK. Beberapa keuntungan tersebut mencakup kemudahan dalam aspek fiskal, seperti perpajakan dan bea cukai, serta kemudahan dalam aspek nonfiskal yang meliputi pengaturan khusus terkait ketenagakerjaan, imigrasi, pelayanan, dan efisiensi tata tertib. Dalam konteks dampak KEK terhadap perekonomian, prediksi menunjukkan adanya peningkatan nilai ekspor pada kuartal I tahun 2024 yang diperkirakan mencapai Rp2,9 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 6,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yang tercatat sebesar Rp2,7 triliun. Kenaikan tersebut ditawarkan berkat kontribusi dari komoditas ekspor terbesar yang berasal dari PT Bintan Alumina Indonesia (KEK Galang Batang), yang nilai ekspornya mencapai Rp2,36 triliun pada kuartal pertama tahun 2024. ANTARA