BORNEONEWS, Sukamara – Kebakaran di Sukamara meningkat 100 persen. Meski baru memasuki awal musim kemarau, sudah 40 kasus kebakaran yang ditangani Pemadam Kebakaran (Damkar) Sukamara. Berdasarkan catatan Damkar Sukamara 40 kasus kebakaran tersebut dihitung dari Juni - Agustus 2016. Yang ditangani, didominasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), di lahan kosong milik warga di wilayah pinggiran kota Sukamara.

“Juni tercatat 9 kasus kebakaran, namun setelah memasuki Agustus kebakaran meningkat 100 persen bahkan dalam kurun waktu setengah bulan saja sudah tercatat sedikitnya 31 kasus yang ditangani,” kata  Kepala Kesbangpol Linmas Sukamara, Imam Wiyono Imam Wiyono, Kamis (18/08).

Lanjutnya meningkatnya kasus kebakaran lahan yang terjadi membuat petugas Damkar Sukamara kerepotan dalam menagani masalah Karhutla ini, meningat dalam sehari Damkar bisa menangai 7 kasus kebakaran.

Menurut Imam, pihak damkar Sukamara selalu merespon setiap laporan kebakaran yang disampaikan oleh masyarakat sehingga petugas Damkar langsung bergerak mendatangi lokasi untuk melakukan pemadaman agar kebakaran tidak semakin meluas, terlebih beberapa kasus kebakaran yang hampir merambat kepemungkiman warga.

“Sempat terjadi kebakaran lahan didekat pemukiman penduduk, untuk warga segera lapor, kalau tidak mungkin beberapa rumah sudah ada yang ikut terbakar,” terangnya.

Sebelumnya, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Sukamara menyebutkan bahwa hingga saat ini sejumlah kebakaran yang terjadi tidak terbaca melalui satelit NOAA, namun upaya pemadaman oleh Tim Serbu Api (TSA) tetap disiagakan. 

“Kebakaran lahan yang terjadi saat ini memang belum terbaca oleh satelit NOAA, namun upaya yang dilakukan TSA tetap dilakukan sesuai dengan kemampuan yang ada,” kata Sekretaris Dinas Hutbun Sukamara, Sutiyono.

Meski demikian, Sutiyono mengatakan bahwa apabila dibandingkan tahun 2015 lalu jumlah Karhutla yang terjadi tahun ini memang terjadi penurunan sebab berdasarkan data dari satelit NOAA pada Bulan Juli 2016 ini belum terbaca adanya titik panas (hotspot), sementara pada bulan Juli tahun 2015 lalu jumlah hotspot sudah terbaca sebanyak 19 titik panas.

“Artinya dari perbandingan tersebut jumlah kasus Karhutla berdasarkan satelit NOAA pada tahun 2016 ini terjadi penurunan, dan memang saat ini masih musim kemarau basah,” kata Sutiyono. (MG-13/N).