KUPANG –
**Borneonews - Kupang**, ICRAF Indonesia, lembaga yang fokus pada riset agroforestri dan berpusat di Bogor, Jawa Barat, mengumumkan bahwa saat ini terdapat 36 desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang mendapatkan pembinaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan keberlangsungan hidup masyarakat desa di tengah tantangan perubahan iklim yang signifikan. Koordinator ICRAF NTT, Yeni Fredik Nomeni, menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim di NTT, khususnya di TTS, sangat nyata dan dapat dilihat dengan jelas. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Ekspose Land4Lives (#LahanuntukKehidupan) yang bertujuan untuk mempromosikan pengelolaan lahan yang berkelanjutan, guna meningkatkan ketahanan iklim di kalangan masyarakat lokal. Fredik menjelaskan bahwa salah satu efek terbesar dari perubahan iklim yang dialami oleh masyarakat adalah terjadinya kemarau panjang yang dapat mengarah pada kekeringan, disertai dengan risiko banjir serta berbagai fenomena cuaca ekstrem lainnya. Hal ini berdampak langsung pada penurunan produksi pangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Ia mengatakan, "Daerah pedalaman sering kali menjadi yang paling terdampak oleh perubahan iklim ini, karena kurangnya pemahaman tentang cara untuk beradaptasi dan tetap dapat bertahan." Program ini dimulai pada tahun 2021 dengan fokus awal pada 12 desa di Kabupaten TTS. Namun, berkat kerjasama dengan berbagai lembaga non-pemerintah lokal, jumlah desa yang mendapatkan pembinaan kini meningkat menjadi 36 desa. Inisiatif Land4Lives direncanakan berlangsung selama lima tahun, dimulai dari Maret 2021 hingga Maret 2026, dan dalam program ini, ICRAF tidak langsung terlibat dalam pengolahan lahan pertanian. Fokus utama mereka adalah memberikan pembinaan kepada masyarakat mengenai cara mengurangi dampak negatif akibat perubahan iklim. Yos Rasi, Plt. Asisten Sekretaris Daerah NTT, memberikan apresiasi terhadap upaya ICRAF di NTT, terutama di Kabupaten TTS, selama beberapa tahun terakhir. Ia berharap agar metode yang telah diterapkan di TTS dapat diadaptasi dan diterapkan di kabupaten lain di NTT, sehingga masyarakat desa di daerah tersebut juga dapat memahami cara untuk beradaptasi dan bertahan di tengah tantangan perubahan iklim. "Ketika kita berbicara tentang NTT secara keseluruhan, apa yang sudah berhasil di TTS diharapkan dapat diterapkan di daerah lain juga," ungkapnya. Rasi menambahkan bahwa 12 desa yang menjadi sasaran awal adalah desa percontohan. Dengan keberhasilan ini, ICRAF melanjutkan pembinaan ke lebih banyak desa, sehingga kini totalnya mencapai 36 desa. ANTARA