BOGOR –
**Borneonews - Subang**, Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT-KUMKM) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, mengundang para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk bergabung dalam upaya memperluas jaringan bisnis mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat menciptakan peluang baru di sektor usaha. Sandy Hallymansyah, Manajer Unit Layanan Kemasan di PLUT-KUMKM Subang, mengungkapkan bahwa pemilik usaha, baik yang berfokus pada produk fashion, makanan, minuman, maupun kerajinan, sangat dianjurkan untuk berpartisipasi. Menurutnya, keikutsertaan dalam PLUT-KUMKM akan memberikan kesempatan bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan, meningkatkan motivasi, serta menjalin lebih banyak kolaborasi dalam bisnis. Sandy memberikan contoh mengenai produk UMKM yang memiliki potensi besar, yaitu batik Subang. Meskipun memiliki kualitas yang baik, batik Subang masih menghadapi beberapa tantangan dalam penetrasi pasar. Terdapat tiga produsen utama batik yang beroperasi di wilayah ini, yaitu Batik Ganasan, Batik Haruming, dan Batik Kareumbi, yang semuanya berada di bawah bimbingan PLUT-KUMKM. Sandy juga mencatat bahwa salah satu hambatan utama bagi para produsen batik di Subang adalah kurangnya penguatan dalam hal branding dan strategi pemasaran. "Walaupun kita memiliki banyak produsen batik, produk batik khas Subang masih jarang dikenal. Sebagian besar yang diproduksi adalah batik cap, sedangkan batik tulis masih terbatas segmen pasarnya dan memiliki perbedaan harga yang signifikan," terangnya. Untuk mengatasi berbagai tantangan yang ada, PLUT-KUMKM berkomitmen untuk mendorong inovasi di kalangan pelaku UMKM di sektor batik. Ini termasuk pembaruan desain produk, penyesuaian harga dengan kondisi pasar, serta pemanfaatan pemasaran digital secara maksimal. Lebih jauh, Sandy menekankan perlunya partisipasi dalam berbagai pameran yang diselenggarakan oleh Dekranasda, serta menjadikan batik sebagai seragam di berbagai instansi pemerintah. "Walaupun saat ini masyarakat menunjukkan minat yang lebih tinggi terhadap produk makanan dan minuman, sektor fashion dan kria, terutama batik, tetap memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang," tutupnya. ANTARA