BORNEONEWS, Kotim - Bupati Kotawaringin Timur Supian Hadi optimistis sektor pariwisata yang lagi gencar dikembangkan pemerintah daerah saat ini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat, di tengah situasi ekonomi sedang lesu. Karena itu, Bupati Kotim terus mengembangkan berbagai objek wisata untuk menarik wisatawan lebih banyak berkunjung ke Kotim.

“Kelompok-kelompok UKM (usaha kecil dan menengah) harus bangkit, melihat peluang usaha. Sumber daya alam kita yang bernilai ekonomis begitu melimpah, tinggal bagaimana kita mengolahnya agar menarik dan dipasarkan,” kata Bupati Kotim, Supian Hadi, di Sampit, Kamis (18/8/2016).

Tentunya, kata Supian untuk melakukan hal itu masyarakat, terutama pelaku UKM tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Perlu ada pendampingan dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait yang memberikan pengetahuan dan keterampilan. Tugas SKPB bagaimana merubah menset generasi muda untuk melihat peluang-peluang usaha.

“Misalnya bekerjasama dengan KLK dan kelompok-kelompok kerajinan di setiap kecamatan. Asalkan komitmen, fokus dan tekun. Jangan asal anggarkan, adakan pelatihan mau dia lanjutkan hasil pelatihan itu atau tidak!. Itu yang saya tidak mau. Kawan-kawan di kecamatan yang tidak siap jangan diikutikan,” tegas Supian.

Supian Hadi mengakui saat ini ekonomi sedang sulit. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh kabupaten Kotawaringin Timur, keuangan negara pun kini sedang dihadapkan pada masalah.

Kondisi ini katanya tidak boleh membuat masyarakat putus asa. Justru dengan semangat mengisi kemerdekaan, masyarakat harus bangkit dan berjuang lebih keras melalui bidang masing-masing.

Bagi Kotawaringin Timur, menurutnya masih banyak peluang yang belum dioptimalkan. Banyak potensi usaha kecil menengah dan ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan untuk menopang perekonomian dan daerah.

“Banyak potensi sumber daya alam kita yang belum termanfaatkan dengan baik untuk menjadi barang bernilai ekonomi tinggi. Seperti batok kelapa dan sisa kayu, itu bisa kita manfaatkan untuk kerajinan sehingga bisa menghasilkan uang,” kata Supian.

Dia memberikan contoh seperti yang dilakukan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sampit. Banyak kerajinan berciri khas daerah yang dihasilkan warga binaan, seperti membuat gantung kunci dengan batok serta yang lainnya.

“Saya ingin UKM-UKM meniru apa yang dilakukan warga binaan Lapas Sampit, tempurung kelapa menjadi barang bernilai jual. Gantung gantung kunci harganya Rp5 ribu, padahal tempurung harganya tidak seberapa. Satu tempurung saja sudah berapa gantung kunci,” katanya.

Supian mengajak masyarakat Kotim lebih kreatif menciptakan usaha. Tidak menunggu muncul usaha orang lain baru ikut-ikutan. (RAFIUDIN/N).