JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Tokoh cendekiawan Islam asal Indonesia, Din Syamsuddin, mengemukakan pendapatnya mengenai kontribusi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, dan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, dalam upaya menciptakan perdamaian baik di tingkat global maupun domestik. Menurut Din, penyerahan penghargaan berupa *Peace Mujahid Award* dan *Diplomacy Mujahidah Award* oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) kepada kedua tokoh tersebut adalah langkah yang sangat tepat. Penghargaan ini diberikan karena keduanya telah berperan aktif dalam menciptakan rekonsiliasi dan perdamaian. Dalam sambutannya melalui video, Din menjelaskan bahwa Menlu Retno dapat dikategorikan sebagai seorang pejuang atau *mujahidah* dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Hal tersebut terlihat jelas melalui pidato-pidatonya, khususnya saat berkontribusi dalam Sidang Majelis Umum PBB. Lebih jauh, Din menegaskan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan Palestina merupakan tindakan yang sejalan dengan amanat konstitusi Indonesia, yang menekankan pentingnya mewujudkan perdamaian yang abadi dan menghilangkan segala bentuk penjajahan. Din juga memberikan pujian kepada Retno sebagai sosok perempuan yang memiliki keberanian untuk menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia dalam konteks dukungan terhadap Palestina. Terlebih, Retno secara tegas menanggapi pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, terkait pembenaran serangan yang dilancarkan Israel di Gaza dan Lebanon Selatan. Di sisi lain, Din Syamsuddin menggarisbawahi bahwa Jusuf Kalla adalah seorang yang dikenal sebagai pencipta perdamaian sejati atau *reconciler* yang berupaya mengatasi berbagai konflik baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Din merujuk pada keberhasilan JK dalam mendamaikan kelompok-kelompok yang terlibat dalam konflik berdarah di Poso dan Ambon. Jusuf Kalla juga berperan dalam upaya menciptakan perdamaian dalam konflik yang melibatkan Rohingya di Myanmar serta konflik di Mindanao, Filipina. Upaya diplomasi Kalla termasuk menjalin komunikasi dengan pemimpin Hamas serta menjalin hubungan dengan almarhum Ismail Haniyeh, selain juga berupaya bertemu dengan tokoh-tokoh dari Fatah. Din berpendapat bahwa persatuan antara Fatah dan Hamas sangat penting untuk perjuangan kemerdekaan Palestina. Din Syamsuddin berbagi pengalamannya, menyatakan bahwa ia menyaksikan secara langsung proses diplomasi yang dilakukan oleh Jusuf Kalla. Ia menyebutkan bahwa ia sempat mendampingi JK saat mengundang pemimpin Hamas dan Fatah ke Jakarta, dengan harapan mereka dapat mencapai perdamaian. Din menekankan bahwa bagi JK, upaya tersebut merupakan pilar utama bagi terciptanya kedamaian antara Palestina dan Israel. ANTARA