JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Gerakan Sekolah Sehat (GSS) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) diharapkan dapat merubah pandangan dan pendekatan terhadap Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Menurut Minhajul Ngabidin, Widya Prada Ahli Madya pada Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbudristek, revitalisasi program UKS menjadi salah satu fokus utama dalam GSS. Minhajul mengungkapkan bahwa selama ini UKS hanya terlihat aktif ketika ada anak yang sakit atau saat ada lomba terkait sekolah sehat. Dalam pandangannya, pendekatan semacam ini tidak cukup untuk membangun karakter dan sikap warga sekolah yang mengedepankan perilaku hidup bersih dan sehat (*PHBS*). Oleh karena itu, Kemendikbudristek menilai perlu adanya penguatan terhadap kesehatan sekolah dan peserta didik melalui GSS. Ia menekankan bahwa pelaksanaan GSS kini diwajibkan bagi semua jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Langkah ini diambil berdasarkan pertimbangan bahwa kesehatan peserta didik merupakan faktor penting yang menunjang kualitas belajar anak-anak agar dapat berprestasi dan mengembangkan potensi mereka secara optimal. Melalui penerapan GSS, diharapkan lingkungan sekolah yang sehat dapat terwujud, mendukung terciptanya pola hidup sehat di kalangan siswa. Gerakan ini kini telah memasuki tahun ketiga, di mana dampak positifnya mulai dirasakan, menjadikannya sebagai salah satu program prioritas di Kemendikbudristek, yang juga selaras dengan gerakan madrasah sehat yang dilaksanakan di Kementerian Agama. Masalah gizi juga menjadi perhatian utama, di mana masih banyak anak-anak di Indonesia yang mengalami stunting pada jenjang TK dan SD. Beberapa di antaranya mengalami kekurangan berat badan, sementara yang lain berisiko mengalami obesitas. Menurut Minhajul, sangat penting untuk menciptakan kondisi sehat baik dari aspek fisik, mental, maupun lingkungan agar proses belajar mengajar berlangsung dengan baik. Namun, ia mencatat bahwa sebagian anak-anak masih dalam kondisi kurang sehat dan bugar. Lebih lanjut, GSS juga diorientasikan untuk mengatasi masalah kekerasan yang dapat berdampak pada kesehatan mental peserta didik. Ia menegaskan bahwa anak-anak kini menghadapi potensi masalah psikologis yang serius, termasuk kekerasan dan pelecehan yang telah terjadi di tingkat pendidikan dasar. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat aspek kesehatan jiwa agar siswa dapat mengelola emosi dengan baik dan berkembang secara positif. Melalui langkah-langkah tersebut, diharapkan GSS tidak hanya menjadi program kesehatan, tetapi juga sebuah gerakan yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan siswa di dalam dan luar sekolah. ANTARA