JAKARTA –
**Borneonews - Istanbul**, Liga Arab telah menggelar pertemuan darurat di Kairo pada hari Kamis untuk mendiskusikan serangan militer Israel yang terus berlanjut di Lebanon. Pertemuan ini diselenggarakan di tengah situasi ketegangan yang semakin meningkat di kawasan itu. Inisiatif untuk pertemuan ini diusulkan oleh Irak dengan tujuan utama membahas eskalasi agresi militer Israel terhadap Lebanon serta untuk mempertimbangkan dampak kemanusiaan yang ditimbulkan. Selain itu, agenda pertemuan juga mencakup pembahasan mengenai langkah-langkah yang dapat diambil untuk menyediakan bantuan medis dan pangan kepada masyarakat yang terkena dampak. Negara-negara anggota Liga Arab juga berencana untuk menyerukan kepada masyarakat internasional agar memberikan dukungan kepada rakyat Lebanon. Mereka berharap bisa menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi internasional agar bantuan dapat disalurkan dengan segera. Sejak 23 September 2024, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran yang difokuskan pada kelompok Hizbullah di Lebanon. Menurut data yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan tersebut telah menyebabkan jumlah korban jiwa yang sangat tinggi, dengan lebih dari 1.100 orang tewas dan lebih dari 2.950 lainnya mengalami luka-luka. Serangan udara ini menunjukkan adanya escalasi lebih lanjut dalam konflik militer yang telah berlangsung selama setahun antara Israel dan Hizbullah. Konflik ini dimulai seiring dengan serangan brutal yang dilakukan oleh Tel Aviv di Jalur Gaza, yang hingga saat ini telah menewaskan hampir 41.800 orang sebagai respons terhadap serangan yang dilancarkan oleh kelompok Palestina, Hamas, beberapa waktu lalu. Berdasarkan laporan dari otoritas Lebanon, setidaknya 1.928 orang di Lebanon telah kehilangan nyawa mereka, lebih dari 9.200 lainnya terluka, dan sekitar 1,2 juta orang terpaksa mengungsi akibat konflik yang berkepanjangan ini. Masyarakat internasional kini semakin khawatir akan kemungkinan bahwa serangan Israel di Lebanon dapat meningkat menjadi konflik yang lebih luas, berpotensi mengarah pada perang regional yang lebih besar. Situasi yang ada memberikan sinyal bahwa banyaknya elemen yang terlibat perlu diwaspadai agar tidak melahirkan bencana kemanusiaan yang lebih parah di wilayah tersebut. ANTARA