BORNEONEWS, Palangka Raya – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah menilai saat ini sirkulasi atau perputaran uang koin di tengah masyarakat sangat minim. Keengganan masyarakat menggunakan ‘uang receh’ itu, terbukti dari data pihak BI Kalteng, dari tahun ke tahun grafiknya terus menurun. Masyarakat lebih suka menggunakan uang kertas, karena uang logam dianggap recehan. Lalu banyak pedagang, tidak menyimpan uang koin untuk kembalian transaksi tetapi menggantinya dalam bentuk lain misalnya permen.


Data 2014, uang yang diedarkan ke masyarakat Kalteng sebanyak Rp 5,742 miliar, namun yang kembali hanya Rp 476,1 juta. Kemudian pada 2015,uang koin yang ‘dilempar’ke publik Kalteng sebanyak Rp 6,78 miliar namun yang kembali kepada pihak BI hanya Rp 310,7 juta. Data pada 2016 sampai semester I, dari Rp4,2 miliar yang diedarkan (outflow) yang kembali (inflow) hanya Rp1,1 juta.


"Itu yang kembali disetorkan melalui bank-bank lain lalu ditukarkan ke kita oleh bank-bank itu dengan uang kertas, nilainya cuma segitu. Jadi banyak yang ada di masyarakat, tapi tidak dipakai. Hanya disimpan di rumah, tidak digunakan untuk transaksi, padahal itu uang dan alat sah pembayaran,” beber Harif, Deputi Perwakilan BI Kalteng bidang Sistem Pembayaran, di Palangka Raya, Kamis (18/8/2016). 


Sedihnya lagi jika melihat nominal pecahan, yang digunakan untuk masyarakat dan kembali ke bank (pada 2016) hanya nominal Rp1.000. Sedangkan pecahan Rp500, Rp200, Rp100, dan Rp50 tidak ada sama sekali. Artinya, lanjut dia, masyarakat enggan menggunakan pecahan selain Rp1000.


Sebagian lagi yang menjadi faktor, ada persepsi di masyarakat tentang uang koin antara lain merasa malu, khawatir ditolak oleh pedagang, gengsi, dan sebagainya. Karena itu, BI Perwakilan Kalteng tergerak untuk menggerakkan lagi penggunaan uang logam atau koin.


“Ini akan menjadi kendala perekonomian kita bahkan cenderung menyumbang inflasi. Kenapa? Sebab pedagang akhirnya cenderung membulatkan ke atas (meng-upkan) nilai barang. Alasannya, sulit mencari koin pengembalian. Padahal ada saja itu koinnya,” tambah Setian, Deputi Perwakilan BI Kalteng bidang Ekonomi dan Moneter. 


Karena itu BI Kalteng membuat gerakan peduli koin nasional dengan tagline BELA KALTENG (Belanjakan Logam Anda Kantong Lebih Enteng) yang dilaksanakan Sabtu (20/8/2016) sejak pukul 08.00 WIB. Masyarakat diminta menukarkan uang logamnya di halaman kantor BI. Tujuannya, mendorong tumbuhnya budaya mengoptimalkan penggunaan uang logam. (RZ/N).