JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI), Gunawan Paggaru, mengungkapkan pandangannya mengenai peningkatan jumlah penonton film Indonesia. Ia menekankan bahwa keterlibatan pemerintah dalam ekosistem perfilman sangat penting untuk memastikan bahwa industri film Tanah Air semakin kokoh dan berkembang. Mahendra Budaya, Direktur Perfilman, Musik, dan Media dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), melaporkan bahwa jumlah penonton film lokal telah mencapai 60,1 juta orang. Angka ini menunjukkan dominasi film Indonesia yang berhasil menarik perhatian lebih banyak penonton dibandingkan dengan film asing di bioskop-bioskop di Indonesia. Gunawan menjelaskan pentingnya pendekatan kreatif dalam mempromosikan film-film lokal kepada publik. Ia percaya bahwa peran aktif pemerintah dalam proses ini sangat diperlukan. "Perlu ada cara-cara kreatif untuk menyebarluaskan promosi film lokal, nah inilah pemerintah harus hadir untuk itu," ujar Gunawan. Meskipun angka 60 juta penonton terkesan impresif, Gunawan menekankan perlunya evaluasi mendalam atas keuntungan yang diperoleh dari masing-masing produksi film. Tahun ini, diperkirakan ada sekitar 150 film Indonesia yang telah diproduksi dan diputar di bioskop. Meskipun demikian, hanya sejumlah film yang berhasil menarik lebih dari satu juta penonton. "Dari data ini, jika 60 juta penonton dibagi dengan 150 film, artinya setiap film hanya ditonton sekitar 400 ribu orang," jelas Gunawan, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia. Ia memperingatkan bahwa jika biaya produksi film mencapai lebih dari Rp5 miliar, maka katerbanan ini justru berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi pelaku industri. Gunawan menganggap bahwa pemerintah harus lebih terlibat dalam pengembangan ekosistem industri perfilman. Keterlibatan tersebut tidak hanya akan membantu meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga mendorong peningkatan jumlah penonton film Indonesia. Dalam upayanya untuk merumuskan langkah yang lebih strategis, Gunawan menawarkan beberapa saran. Antara lain adalah pembuatan rencana untuk meningkatkan jumlah produksi dan penonton film Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. Dia juga menyarankan agar ada sinergi antara berbagai kementerian untuk melahirkan Undang-Undang, serta kebijakan lain yang bermanfaat bagi para sineas di tanah air. "Diperkirakan, kita membutuhkan sekitar 800 judul film setiap tahunnya, namun saat ini baru ada 150 film. Ini berarti kita perlu lebih banyak tenaga kerja di bidang perfilman untuk mencapai target tersebut,” ungkap Gunawan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya dunia pendidikan dalam menyiapkan tenaga kerja yang terampil di industri perfilman demi menjaga kualitas konten dan teknis produksi film. Gunawan mengapresiasi kontribusi sineas Indonesia yang terus berupaya menghadirkan karya-karya film berkualitas. Ia menilai bahwa secara teknis, film-film Indonesia menunjukkan kemajuan yang positif, terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. "Materi cerita di seluruh Nusantara sangat kaya, kita memiliki banyak potensi untuk mengembangkan konten film lebih lanjut," tambahnya. Dengan capaian 60 juta penonton film Indonesia, Gunawan berharap agar pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi dan jumlah penonton film lokal. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh lengah dalam merespons data penonton yang signifikan ini. "Kita perlu master plan untuk merencanakan langkah-langkah ke depan bagi industri perfilman," pungkas Gunawan menandai akhir percakapan. ANTARA