JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara resmi meluncurkan program penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui penerapan nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi bakteri *Wolbachia*. Acara tersebut berlangsung di Taman Agro Eduwisata GSG RW 07, Kelurahan Kembangan Utara, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat, pada hari Jumat. Dalam pernyataannya, Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, menjelaskan bahwa usaha penanggulangan DBD dengan pendekatan *Wolbachia* di wilayah Jakarta Barat telah dimulai setelah daerah tersebut ditetapkan sebagai salah satu lokasi program tersebut. Uus menekankan pentingnya keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1341, yang mengatur pelaksanaan proyek inovatif ini sebagai bagian dari upaya mengatasi masalah DBD di Indonesia. Uus juga mengakui bahwa Jakarta Barat terpilih sebagai salah satu dari lima kota lainnya, termasuk Semarang, Bandung, Kupang, dan Bontang, yang terlibat dalam program yang diinisiasi oleh Kementerian Kesehatan. Untuk memastikan kelancaran program ini, Pemerintah Kota Jakarta Barat telah menyelenggarakan pelatihan bagi kader Juru Pemantau Jentik (*Jumatik*), agar mereka dapat memberikan kepada masyarakat pemahaman yang baik mengenai program ini. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dilakukan secara intensif di seluruh kawasan Jakarta Barat. Berbagai metode digunakan dalam proses ini, seperti interaksi langsung, pemanfaatan media sosial, penyelenggaraan webinar, distribusi leaflet, serta melalui saluran informasi lainnya. Lebih lanjut, Uus menyampaikan bahwa pendataan Orang Tua Asuh (*OTA*) yang bersedia untuk menerima telur nyamuk *Wolbachia* dalam ember telah dilakukan. Saat ini, terdapat 1.185 orang OTA di Kembangan Utara yang secara aktif menjaga dan merawat ember-ember tersebut. Kecamatan Kembangan dipilih sebagai lokasi pertama pelepasan nyamuk yang terinfeksi *Wolbachia* karena mencatatkan angka DBD tertinggi tahun 2023 dengan tingkat insiden mencapai 54,1 kasus per 100.000 penduduk. Uus mengemukakan bahwa kecamatan ini memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, dan masyarakatnya dikenal kerjasamanya yang kuat, sehingga mereka menerima program ini dengan baik. Uus juga memaparkan bahwa kasus DBD di Jakarta Barat mengalami peningkatan sejak Februari 2024, dengan puncak kejadian tercatat pada bulan April dengan 799 kasus. Selama periode Maret hingga Juni 2024, jumlah kasus DBD berada di atas rata-rata maksimal lima tahun terakhir, sebelum akhirnya mulai menunjukkan penurunan pada bulan Juli dan menjadi sebanyak 73 kasus pada bulan September. Dalam kesempatan yang sama, Yudhi Pramono selaku Plt. Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes menyatakan bahwa mereka menargetkan agar 60 persen dari telur nyamuk *Wolbachia* dapat menetas. Hal ini diharapkan dapat mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti yang menjadi penyebar virus DBD di wilayah tersebut. Yudhi menjelaskan bahwa umumnya, nyamuk dapat terbang hingga sejauh 100 meter, namun dengan bantuan angin, jangkauan terbang mereka bisa lebih jauh lagi. Oleh karena itu, diharapkan penyebaran nyamuk yang terinfeksi *Wolbachia* dapat meluas lebih banyak lagi. Yudhi mengharapkan bahwa jumlah kasus DBD di Jakarta Barat dapat ditekan hingga mencapai 10 kasus per 100.000 penduduk. Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk terus mengevaluasi metode ini dan berencana untuk melanjutkan penyebarannya di kota-kota lain di Indonesia, guna memperluas jangkauan upaya pencegahan DBD secara efektif. ANTARA