JAKARTA –
**Borneonews - Hamilton, Kanada**, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk operasi pemeliharaan perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, mengonfirmasi bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai *United Nations Interim Force in Lebanon* (UNIFIL), akan melanjutkan misi mereka. Hal ini dinyatakan dalam konferensi pers yang berlangsung di markas besar PBB di New York pada Kamis, 3 Oktober. Dalam keterangan yang disampaikan kepada wartawan, Lacroix menekankan bahwa lebih dari 10.000 personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam UNIFIL memiliki tanggung jawab untuk menjalankan misi yang telah ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB. Ia menambahkan bahwa keberadaan mereka juga ditujukan untuk melindungi masyarakat sipil di wilayah selatan Lebanon. Walaupun timbul banyak tantangan dalam pelaksanaan misi, Lacroix tetap optimis bahwa usaha untuk menjaga perdamaian akan terus berlanjut. Ia mengungkapkan bahwa *rencana darurat* senantiasa diperbarui untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, termasuk skenario evakuasi. Namun, ia berharap situasi tersebut tidak sampai terjadi. Dalam pernyaataannya, Lacroix mengingatkan bahwa kondisi di lapangan sulit untuk dinilai secara akurat akibat konflik yang sedang berlangsung. Ia menggarisbawahi komitmen UNIFIL untuk melindungi warganya dan menyatakan bahwa pasukan penjaga perdamaian berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan perlindungan kepada penduduk tanpa merinci lebih lanjut tentang langkah-langkah yang diambil. Konflik antara Hizbullah dan Israel semakin memanas setelah terjadinya ketegangan yang dipicu oleh konflik di Gaza yang dimulai pada bulan Oktober tahun lalu. Untuk memperburuk keadaan, pada 23 September tahun ini, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Lebanon dengan mengklaim bahwa serangan tersebut ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Hizbullah. Serangan tersebut mengakibatkan tidak hanya terbunuhnya sejumlah pemimpin Hizbullah, termasuk Hassan Nasrallah, tetapi juga menyebabkan lebih dari 1.100 jiwa melayang dan memaksa puluhan ribu penduduk lainnya untuk mengungsi dari tempat tinggal mereka. Situasi ini semakin menambah ketegangan di kawasan bergejolak ini. ANTARA