JAKARTA –
**Borneonews - Sumbawa, Nusa Tenggara Barat**, Organisasi yang berfokus pada pelestarian lingkungan, Konservasi Indonesia (KI), memberikan kesempatan unik kepada aktris Prilly Latuconsina untuk merasakan pengalaman langsung dalam memasang perangkat penanda satelit (*satellite tag*) pada seekor hiu paus. Hiu paus ini dilengkapi dengan label namanya di perairan Teluk Saleh, Sumbawa. Meizani Irmadhiany, yang menjabat sebagai Senior Vice President dan Executive Chair di Konservasi Indonesia, menjelaskan bahwa pemasangan penanda satelit ini bertujuan mendukung program pemerintah dalam melestarikan satwa langka yang terancam punah. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari upaya KI untuk mendorong pembentukan kawasan konservasi demi perlindungan spesies yang membutuhkan perhatian khusus. Dengan mengajak Prilly sebagai Kawan Hiu Paus, yang ditunjuk pada akhir Agustus lalu, diharapkan ia dapat menyebarkan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat serta sesama penyelam mengenai pentingnya melindungi hiu paus. Meizani menambahkan, "Kami sangat gembira Prilly bersedia terlibat langsung dalam pemasangan salah satu alat penelitian ini pada hiu paus yang kami namakan berdasarkan namanya." Prilly sendiri merasa sangat terhormat dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini. Ia menyatakan bahwa pengalaman ini adalah momen berharga yang tak akan terlupakan. "Menyentuh hiu paus dan memasang perangkat ini adalah suatu pengalaman pertama yang menggugah emosi bagi saya. Saya biasanya menjaga jarak saat melakukan *diving*, tetapi kali ini saya dapat langsung berinteraksi dengan ikan raksasa ini," ungkapnya. Sebelum terjun ke aktivitas tersebut, Prilly telah menerima pengarahan dari tim peneliti Konservasi Indonesia. Dia menyatakan bahwa pengalaman ini membantunya lebih memahami makna penelitian bagi satwa karismatik ini. "Menjadi Kawan Hiu Paus memberi saya peluang untuk belajar lebih dalam tentang spesies menakjubkan ini. Para peneliti mengajarkan saya pentingnya penanda satelit serta peran pariwisata yang berkelanjutan dalam konteks hiu paus," tambah Prilly. Iqbal Herwata, Senior Manager pada Focal Species Conservation di Konservasi Indonesia, yang menyertai Prilly dalam proses pemasangan penanda satelit, menjelaskan bahwa pemasangan ini sangat signifikan mengingat hiu paus memiliki kebiasaan migrasi yang tinggi. "Melalui perangkat ini, kami dapat melacak kemana hiu paus bergerak dan mengidentifikasi habitat penting mereka serta durasi berada di suatu lokasi," jelasnya. Dia menambahkan, "Data yang dihasilkan dari pergerakan hiu paus ini sangat penting bagi pengelolaan kawasan konservasi, memungkinkan kami untuk mengembangkan strategi perlindungan yang efektif bagi habitat kritis mereka. Penanda ini dilengkapi dengan GPS, sensor suhu, dan kedalaman, sehingga kami dapat memantau kedalaman penyelaman mereka serta lama mereka berada di kedalaman tertentu." Pada waktu yang bersamaan, sejumlah peneliti dari berbagai institusi, termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, BPSPL Denpasar, IPB University, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Pusat Riset Oseanografi BRIN, Balai Riset Perikanan Laut, dan Elasmobranch Indonesia Institute juga melanjutkan kegiatan ekspedisi di Teluk Saleh. Ekspedisi tersebut bertujuan untuk mengumpulkan data dasar mengenai keanekaragaman hayati, ekosistem, habitat penting, serta konektivitas hiu paus dalam rangka pengembangan kawasan konservasi. Kegiatan ini juga mengungkapkan fakta mengenai tingginya keanekaragaman ikan karang di Teluk Saleh, dengan lebih dari 560 spesies yang telah terobservasi, yang di antaranya berpotensi sebagai spesies baru. ANTARA