BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Awal keterpurukan petani Keramba ikan di bantaran Sungai Arut, terjadi pada 2015. Saat itu ratusan petani keramba ikan merugi hingga ratusan juta. Perubahan kualitas air akibat pergantian musim dari kemarau ke musim hujan dituding menjadi penyebab menurunnya kualitas Sungai Arut.
Di saat ratusan pembudidaya keramba ikan mengalami kejatuhan, ia satu dari sekian pembudidaya yang masih bertahan dan mampu kembali bangkit, walau perlahan usaha yang digelutinya sejak sepuluh tahun terakhir ini mulai menggeliat kembali.
Ia adalah Tewan, 45, warga Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), profesi awalnya ia adalah motoris getek (tukang getek) yang melayani penyeberangan di Sungai Arut. Saat itu ia mempunyai keinginan yang kuat untuk berusaha dibidang perikanan, namun keterbatasan modal membuatnya harus memutar otak bagaimana mendapatkan bibit ikan.
Hingga akhirnya berbekalkan satu pengilar (jebakan ikan bujur sangkar), ia memanfaatkan banyaknya keramba yang jebol saat itu, ia mulai memasang pengilarnya di tepian Sungai Arut, sedikit demi sedikit ikan yang masuk dalam pengilarnya ia pilah-pilah. Ia hanya mengambil ikan jenis tertentu yang mempunyai nilai ekonomis tinggi yakni ikan bawal.
Dalam beberapa pekan ikan Bawal yang ia kumpulkan berjumlah 150 ekor. Ia kembali dihadapkan pada persoalan sarana dan prasarana untuk media memelihara ikan hasil tangkapannya. Hingga akhirnya ia memberanikan diri meminta izin kepada salah satu pembudidaya untuk meminjam satu lubang keramba untuk ikan-ikannya dan ia pun diberikan satu keramba pinjaman berukuran 2x4 meter.
Bukan tanpa kendala saat ia mulai memelihara ikan Bawal miliknya, ia kembali dihadapkan pada persoalan mahalnya pakan ikan. Persoalan tingginya harga pakan ikan tersebut yang ia perhatikan membuat banyak pembudidaya terlilit utang. Dan ia bertekad tidak ingin mengalami hal yang sama dengan pembudidaya lainnya.
Suatu ketika saat berjalan-jalan ke pasar Indra Sari, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), ia melihat banyak sekali limbah sayuran yang terbuang sia-sia. Ia pun memperhatikan pedagang daging ayam dan ikan saat itu hanya membuang jeroan-jeroan yang tidak bisa dijual.
Ia pun berpikir sayuran dan jeroan tersebut apabila di jadikan umpan ikan maka tentu saja akan memangkas biaya pakan yang tinggi. Hingga akhirnya ia meminta kepada pedagang untuk mengambil limbah-limbah sayuran dan jeroan baik ayam atau ikan itu.
Sayuran dan jeroan tersebut ia angkut menggunakan perahu getek miliknya, sayuran dan jeroan ia cacah dan ia sebar dalam kerambanya. Hasilnya dalam tempo singkat ikan-ikannya justru berkembang lebih baik dari ikan yang diberi pakan pabrikan.
"Saya awalnya terkejut, ikan saya perkembangannya lebih bagus. Jujur itulah yang akhirnya membuat saya lebih terpacu, dan semakin menambah keyakinan saya bahwa saya bisa sukses tanpa modal,” akunya.
Berkat kegigihan dan keuletannya saat ini Tewan memiliki puluhan lubang keramba ikan, dan berkat inovasi pakannya yang memanfaatkan hasil limbah sayuran dan jeroan itu, ia sudah tidak dipusingkan dengan mahalnya harga pakan ikan pabrik.
Menurutnya, ia dalam sebulan hanya mengeluarkan biaya pakan sebesar 2,5 juta atau berhasil ia pangkas hampir 70 persen biaya pakan pabrikan.
Sementara dengan 12 lubang keramba yang ada, apabila menggunakan pakan pabrikan harusnya dia mengeluarkan biaya per harinya 1 sak pakan atau setara dengan Rp400 ribu.
"Alhamdulillah berkat keprihatinan terhadap limbah di pasar berupa sayur dan jeroan bisa memangkas pengeluaran dan hasil ikan pun lebih baik dibandingkan dengan memberi pakan pabrikan," ujar dia.
Saat ditanyai, penghasilan dari panen ikan yang diperolehnya saban 5-6 bulan, ia pun hanya tersenyum dan mengatakan tidak elok kalau rezeki yang diberikan sang pencipta diumbar, yang jelas cukup untuk menghidupi keluarga dan biaya sekolah anak-anak.
Untuk memudahkan pengawasan dan pemeliharaan ikan-ikannya, ia juga membangun membuat rumah sederhana di atas lanting keramba miliknya, ia bersama istri dan tiga orang anaknya juga tinggal di rumah lanting tersebut. (KOKO SULISTYO/m)








