BORNEONEWS, Sampit - Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Penyuluhan (DP3KP) Kabupaten Kotawaringin Timur, I Made Dikantara mengaku, kebijakan pemangkasan dana alokasi umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp210 miliar mengakibatkan beberapa program pengembangan pertanian dibatalkan.

“Kami cukup banyak yang terkena rasionalasisasi, mencapai Rp9 miliar,” kata I Made Dikantara, Jumat (19/8/2016).

Akibat pemangkasan tersebut, banyak proyek-proyek prioritas untuk menunjang produktivitas pertanian terpaksa harus tertundak. Baik itu anggaran pengadaan alat pertanian maupun proyek pembangunan infrastruktur jalan pertanian.

Namun kata Made, meski anggaran di dinas yang dipimpinnya itu terkena rasionalisasi hingga Rp9 miliar. Pihaknya tetap optimis dan berupaya mewujudkan Kabupaten Kotawaringin Timur swasembada beras.

Target itu kata Made bukan sebatas angan-angan belaka. Tetapi bisa dilihat dari terus bertambahnya luasan tanam padi setiap tahunnya.

“Pada tahun 2015 lalu, luas tanam padi kita mencapai 23 ribu hektare dan masih kekurangan sekitar 4.500 ton beras. Sedangkan pada tahun 2016 ini luas tanam sudah mencapai 25 ribu hektare dan diperkirakan mencapai 26 ribu hektare sehingga diyakini akan mampu swasembada beras,” ungkap Made.

Apalagi tambah dia, sector pertanian khususnya padi sawah terus terus meningkat, bahkan kini ada petani yang mampu panen padi hingga tiga kali dalam setahun.

Petani yang sudah bisa melakukan panen hingga tiba kali setahun adalah petani di Sungai Sugih Kelurahan Kotabesi Hulu Kecamatan Kotabesi. Saat ini ada 150 hektare sawah yang digarap dengan baik oleh petani setempat.

“Kalau petani di semua wilayah di Kotim bisa dibantu peralatan produksi lengkap dan sarana pendukung yang baik, saya yakin semua  bisa panen padi hingga tiga kali setahun,” katanya.

Keberhasilan pertanian di kawasan itu karena petani sudah memanfaatkan teknologi pertanian dengan baik sehingga bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya. Semua tahapan mulai dari pengolahan lahan, penanaman, panen hingga pengemasan dilakukan dengan peralatan yang memadai sehingga lebih cepat.

“Jaringan irigasinya juga bagus. Kalau saat surut pun, petani juga masih bisa menggunakan pompa air. Dengan catatan, asal tidak terjadi cuaca ekstrem yang bisa membuat kondisi alam tidak menentu,” kata Made. (RAFIUDIN/m)