MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Pemerintah Kota Mataram yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah kekurangan air pada lahan pertanian. Dalam upaya tersebut, sebanyak 83 unit mesin *pompa air* telah disalurkan kepada berbagai kelompok tani yang berada di wilayah tersebut. Pejabat Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Irwan Harimansyah, menjelaskan bahwa semua mesin pompa yang diberikan merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Bantuan ini diterima dalam bentuk peralatan dan langsung disalurkan ke kelompok tani, sementara petani yang berada di wilayah Rembiga Selaparang tidak termasuk dalam penerima bantuan tersebut. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kelompok tani di Rembiga saat ini sedang menanam tanaman palawija, khususnya jagung, dan tidak terlibat dalam penanaman padi pada musim tanam ketiga. Irwan mengungkapkan, bantuan mesin pompa ini diharapkan dapat digunakan oleh para petani pada saat musim kemarau tiba, guna mengatasi kekurangan air yang mungkin terjadi di sawah mereka. Ia menegaskan bahwa meskipun petani di Mataram belum pernah mengalami kekeringan yang parah, mereka tetap memerlukan dukungan dari mesin pompa agar dapat melanjutkan kegiatan pertanian dengan baik. Alokasi mesin pompa air ini ditujukan kepada kelompok tani yang secara konsisten menanam padi selama tiga musim berturut-turut dalam satu tahun. Lebih lanjut, Irwan menyampaikan bahwa selain mesin pompa, kelompok tani juga akan menerima bantuan berupa empat unit irigasi perpompaan. Program ini serupa dengan bantuan mesin pompa, namun disertai dengan fasilitas seperti rumah pompa dan jaringan pipa untuk mendistribusikan air ke areal pertanian. Sumber air untuk irigasi perpompaan juga berasal dari aliran sungai, dan bagi mereka yang telah menerima *pompa air*, tidak akan diberikan irigasi tersebut. Salah satu persyaratan agar kelompok tani dapat menerima bantuan adalah lokasi sawah yang lebih tinggi daripada aliran sungai. Dengan upaya yang dilakukan, Irwan optimis bahwa pertanian padi di Kota Mataram dapat berjalan dengan baik. Ia berharap tidak akan ada dampak signifikan dari kekeringan terhadap hasil panen. Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Selaparang, Theodora Junita Hutahaean, turut menambahkan bahwa saat ini sisa luas sawah baku di Mataram tercatat sekitar 1.458,71 hektare. Produksi rata-rata padi pada musim tanam pertama dan kedua mencapai delapan ton per hektare, sementara pada musim tanam ketiga diperkirakan sekitar enam ton per hektare. Theodora menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai petani di Mataram yang mengalami dampak buruk akibat kekeringan. Meski terdapat kekurangan air, kondisi tersebut belum sampai pada titik kritis yang mengarah pada potensi gagal panen. ANTARA