**Borneonews - Jakarta**, Wakil Presiden Ma'ruf Amin telah menyampaikan bahwa ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat positif selama lima tahun terakhir. Dalam sebuah pertemuan pleno Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Wapres menekankan perkembangan yang signifikan ini telah terlihat baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dia menyatakan bahwa kemajuan dalam sektor ini menegaskan posisi ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu arus baru dalam perekonomian. Ini menunjukkan bahwa keduanya, ekonomi konvensional dan syariah, dapat beroperasi secara paralel demi memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Wapres mengusulkan perlunya penerapan *dual economy system*, di mana ekonomi syariah dan konvensional saling melengkapi.
Wapres menekankan bahwa pencapaian yang diraih tidak hadir begitu saja, melainkan merupakan hasil dari komitmen yang kuat, dedikasi, serta kerja keras seluruh pihak yang terlibat. Ia menyoroti pentingnya untuk tidak berpuas diri serta terus meningkatkan kontribusi ekonomi dan keuangan syariah dalam perekonomian. Dengan demikian, sektor ini harus mampu beradaptasi dengan cepat serta merespons peluang di tengah situasi ekonomi global yang semakin kompleks.
Selama lima tahun terakhir, program-program pengembangan yang dikhususkan untuk ekonomi syariah telah menunjukkan kemajuan yang berarti baik di dalam negeri maupun secara global. Dalam hal ini, kajian yang dilakukan oleh Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah (KEKSI) Bank Indonesia mengungkapkan bahwa pada triwulan kedua 2023, pangsa aktivitas usaha syariah terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 46,71 persen, setara dengan Rp9.826,8 triliun.
Lebih lanjut, hingga Maret 2024, pembiayaan syariah untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tercatat sebesar Rp161,03 triliun. Angka ini mencerminkan pencapaian 81,66 persen dari target rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) serta 59,88 persen dari target Masterplan Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (MEKSI) periode 2019-2024.
Pertumbuhan sektor ekonomi syariah juga didorong oleh kinerja sektor *halal value chain* (HVC), yang mengalami peningkatan sebesar 3,93 persen pada tahun 2023. Sektor-sektor unggulan di HVC, seperti pertanian, makanan dan minuman halal, pariwisata yang ramah Muslim, serta fesyen Muslim, memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional, bahkan menyokong hampir 23 persen dari total ekonomi Indonesia pada tahun yang sama.
Dari segi infrastruktur yang mendukung ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, hingga September 2024, telah terbentuk Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) di 31 provinsi di seluruh Indonesia. Sebagaimana KNEKS yang beroperasi di tingkat pusat, KDEKS berfungsi sebagai akselerator pengembangan ekonomi syariah daerah dengan memimpin kolaborasi di antara berbagai pemangku kepentingan.
Di tingkat global, berdasarkan laporan *State of Global Islamic Economy Report* (SGIE Report) 2023, Indonesia menempati posisi ketiga dalam Global Islamic Economic Indicator (GIEI), setelah Malaysia dan Arab Saudi. Peringkat ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2018, di mana Indonesia masih berada di peringkat kesepuluh.
ANTARA
Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Positif di Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Puluhan Sekolah di Palangka Raya Masih Dipimpin Plt, Pengisian Definitif Ikuti Aturan
Kapolres Gumas Tanam 50 Bibit Pucuk Merah di Lahan Bekas Karhutla
OJK Kalteng Manfaatkan Momentum BIK 2026, Dorong Masyarakat Bangun Ketahanan Finansial
Erupsi Gunung Semeru Terjadi Enam Kali dengan Tinggi Letusan Hingga 1,2 Km
Jarak Pandang Terbatas Akibat Kabut Asap, Wakil Ketua III DPRD Kalteng Minta Masyarakat Waspada
Jaringan Peredaran Kayu Ilegal Didalami Pihak Kemenhut
Komentar (0)
Memuat komentar…







