JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova, mengeluarkan peringatan bahwa mikroplastik kini telah terdeteksi di berbagai ekosistem di seluruh Indonesia. Penemuan ini meliputi berbagai lingkungan, mulai dari perairan, tanah, hingga area pegunungan dengan variasi kelimpahan yang cukup signifikan. Reza menegaskan bahwa hampir di setiap aspek ekosistem Indonesia, mulai dari sumber daya air, tanah, udara, serta perairan dalam hingga puncak gunung tertinggi, telah mengalami kontaminasi oleh mikroplastik. Dalam sebuah diskusi daring yang diselenggarakan oleh BRIN, Reza mengungkapkan bahwa "maksudnya adalah, semua wilayah telah terpapar mikroplastik." Mikroplastik ini berasal dari sampah plastik yang terdegradasi, yang dihasilkan dari pengelolaan limbah yang buruk, baik dikarenakan pembuangan yang sembarangan maupun pengelolaan yang tidak efisien, seperti pembakaran. Residu mikroplastik yang masuk ke lingkungan dapat memasuki tubuh manusia melalui konsumsi ikan atau hewan akuatik lainnya, serta melalui inhalasi atau kontak dengan bahan plastik yang mengalami pelapukan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, Reza menyebutkan bahawa sekitar 75 persen dari sampel biota air, tanah, serta udara menunjukkan hadirnya mikroplastik. Selanjutnya, pemodelan penyebaran mikroplastik di permukaan laut Asia Tenggara menunjukkan bahwa tingkat kontaminasi semakin meningkat seiring bertambahnya aktivitas populasi manusia di sekitar wilayah tersebut. Variasi kelimpahan mikroplastik yang teramati sangat beragam, berkisar antara 0,1 hingga 11 juta partikel mikroplastik per 1.000 liter air, 3 hingga 50.000 partikel per kilogram tanah, dan 0,1 hingga 65 partikel per produk perikanan individu. Reza pun mencatat bahwa antara 109 negara yang diteliti, negara-negara Asia Tenggara adalah salah satu yang paling banyak terpapar mikroplastik. Meski konsumsi plastik di Indonesia terbilang lebih rendah dibanding negara-negara tetangga, dengan rata-rata 22,5 kilogram per kapita, hal ini tidak mengurangi proporsi plastik yang bocor ke laut, yang justru diperkirakan lebih besar. Reza menjelaskan bahwa ini sangat terkait dengan pengelolaan sampah yang masih kurang optimal di Indonesia, termasuk masih banyaknya praktik pembakaran sampah yang dilakukan secara terbuka oleh masyarakat. Oleh karena itu, Reza menyerukan perlunya pengelolaan sampah plastik yang lebih efektif dan pengurangan penggunaan produk plastik sekali pakai yang saat ini masih marak terjadi. ANTARA