JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai bahwa meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap anak yang terlaporkan mencerminkan peningkatan kesadaran masyarakat untuk melaporkan insiden tersebut. Menurut ketua KPAI, Ai Maryati Solihah, jumlah kasus kekerasan yang sudah mencapai 18.000 tahun ini merupakan akumulasi data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (*Simfoni PPA*). Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin berani dan tanggap dalam melaporkan tindakan kekerasan yang terjadi pada anak. Ai Maryati Solihah menekankan bahwa tingginya angka laporan tersebut seharusnya menjadi perhatian bagi semua pihak. Dia menyebut hal ini sebagai alarm untuk menyiapkan berbagai langkah strategis guna mengurangi kasus kekerasan terhadap anak. Diperlukan kolaborasi untuk memastikan bahwa strategi nasional dalam mengatasi masalah ini dapat mencapai hasil yang maksimal, mengingat prevalensi data kekerasan terhadap anak masih sangat tinggi. Belakangan ini, sejumlah kasus kekerasan seksual terhadap anak telah mencuat ke permukaan. Di Pekalongan, Jawa Tengah, terdapat laporan tentang puluhan siswi dari sebuah SMA yang diduga menjadi korban pelecehan seksual verbal oleh oknum guru bimbingan konseling. Kejadian serupa juga terungkap di Tangerang Selatan, Banten, di mana seorang guru ngaji ditangkap polisi karena diduga melakukan kekerasan seksual terhadap delapan muridnya. Sementara itu, di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dua guru ngaji mengalami nasib yang sama setelah ditangkap karena melakukan kekerasan seksual terhadap empat santriwati. Di Gorontalo, tindakan serupa dilakukan oleh seorang oknum guru yang ditangkap setelah video kejahatan seksualnya terhadap siswa beredar luas. Penangkapan ini menunjukkan keprihatinan yang mendalam terhadap perlindungan anak di berbagai lapisan pendidikan. Melihat angka tersebut, sangat penting bagi semua pihak untuk berkomitmen dalam melawan segala bentuk kekerasan terhadap anak dan memastikan anak-anak merasa aman dalam lingkungan pendidikan mereka. ANTARA