BORNEONEWS, Kotim - Luar biasa. Dari berjualan kue tradisional, pasangan kakek-nenek, Aberan (76) dan Hamsah (66), warga Kotawaringin Timur, bisa berangkat haji tahun ini. Kegigihan, kemauan pantang menyerah warga Jalan Langsat 1, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah ini, bisa menjadi contoh bagi semua orang.
Pasangan suami istri tersebut Aberan (76) dan Hamsah (66) hanya berprofesi sebagai pembuat kue tradisional, sekaligus sebagai penjualnya. Keinginan kuat mereka untuk menunaikan ibadah haji tahun ini, akan terwujud. Calon jamaah haji ini, hampir bisa dipastikan akan berangkat haji, dan tergabung dalam kloter 13 embarkasi Bandara Syamsudinnoor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
“Alhamdulillah penantian kami sejak tahun 1993 akhirnya bisa membuahkan hasil, dan insyallah kami akan berangkat hari ini dari Sampit menuju Banjarmasin,” ujar Aberan, dengan wajah yang berseri-seri, Jumat (19/8/2016).
Jika melihat kehidupan sehari-hari pasangan manula ini, mereka hanya berprofesi sebagai pembuat sekaligus penjual kue keliling. Gambaran untuk mereka bisa berangkat haji sepertinya sebuah hal yang nyaris tidak mungkin bisa terjadi. Namun dengan berbekal niat yang tulus dan semangat yang luar biasa dalam mencari rejeki, akhirnya mereka berdua berhasil terpilih untuk mengunjungi baitullah sebagai tamu Allah.
Dari cerita Aberan, mereka mulai mengumpulkan uang dari keuntungan berjualan kue untuk bisa pergi haji itu sudah sejak 1993. Uang yang mereka hasilkan dari berjualan itu tidak disimpan di bank, melainkan di dalam lemari yang ada di rumahnya.
Setelah uangnya dirasa cukup, sekitar tahun 2011 mereka berinisiatif menyetorkan uang tersebut ke bank sebagai ongkos naik haji. Namun saat itu tidak bisa dilakukan, karena cobaan dari yang maha kuasapun datang. Sang istri tercinta tiba-tiba menderita sakit stroke. Sehingga uang yang sejatinya sudah diniatkan untuk berangkat haji, akhirnya dipakai untuk berobat.
“Saat hendak saya setorkan ke bank, ternyata istri sakit, sehingga saya pakai uang itu untuk berobat istri,” cerita Aberan.
Walaupun begitu, niat awal itu takpernah dilupakan. Dia berupaya keras untuk dapat mengembalikan uangnya tersebut. Sehingga dalam jangka satu tahun saja, tepatnya pada 2012, mereka mampu melunasi kembali setoran haji, yang sebelumnya sempat terpakai untuk biaya berobat sang isteri yang saat ini sudah kembali sehat.
“Takdir Allah memang tidak ada yang bisa melawan atau menolak, setelah empat tahun masuk daftar tunggu. Kami berdua yang sudah berusia lanjut ini, mendapat kemudahan pemerintah untuk diberangkatkan pada 2016 ini,” ungkap Aberan.
Aberan mengatakan penghasilannya berjualan kue berkisar antara Rp100 ribu per harinya. Dia berjualan di Pasar Mangkikir atau dikenal dengan Pasar Subuh. Dia membuka dagangannya setiap hari pukul 22.00 WIB, hingga 06.00 WIB keesokan harinya. Dalam sehari dia bisa menjual sekitar 300 kue. (M. HAMIM/N).








