**Borneonews - Jakarta**, Seorang pakar psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim M.Psi, mengungkapkan bahwa penerapan hukuman fisik mungkin tidak tepat untuk semua anak dalam usaha memodifikasi perilaku mereka.
Menurutnya, banyak orang tua saat ini yang masih menggunakan hukuman fisik, namun hasilnya tidak selalu terlihat pada perubahan perilaku anak. Hal ini menunjukkan bahwa hukuman tersebut tidak efektif dalam memberikan efek jera, sehingga dianjurkan untuk memilih pendekatan lainnya yang lebih konstruktif dan edukatif.
Prof. Romi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa anak-anak dapat melakukan pelanggaran dengan berbagai alasan. Seringkali, pelanggaran tersebut diakibatkan oleh kurangnya pemahaman terhadap aturan yang ada, kebutuhan untuk mendapatkan perhatian, atau situasi tertentu yang menekan mereka untuk berbuat demikian.
Hukuman fisik, seperti memukul, tidak seharusnya dijadikan satu-satunya metode untuk mengubah tingkah laku anak. Sebaliknya, penting bagi anak untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka, serta mengenali manfaat yang bisa didapat jika mereka tidak melanggar aturan.
Romi mengemukakan bahwa perubahan perilaku anak perlu dilihat dari tiga aspek penting, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Proses ini dikenal sebagai *shaping*, yang merupakan teknik untuk membentuk perilaku anak. Hal ini bisa dilakukan melalui pemberian informasi dan pemahaman secara berjenjang. Dengan cara ini, diharapkan anak dapat memahami bahwa perilaku positif akan membawa kebaikan bagi diri mereka sendiri.
Komunikasi yang baik antara orang tua dan anak sangatlah penting. Melalui komunikasi yang efektif, orang tua dapat memberikan pemahaman mengenai dampak emosional jika tidak menuruti aturan. Dengan pendekatan ini, diharapkan anak akan menghentikan perilaku buruk secara alami.
Romi juga menjelaskan bahwa orang tua tidak harus selalu memberikan hukuman ketika anak berbuat kesalahan. Memberikan hadiah sebagai imbalan dalam hal kepatuhan juga perlu dihindari, karena dapat mengacaukan perkembangan mental anak dan membuat mereka selalu menantikan imbalan atas perilaku baik.
Idealnya, hukuman seharusnya merupakan langkah terakhir. Jika masih memungkinkan untuk berbicara dengan anak, berikan nasihat yang tepat tanpa meningkatkan volume suara, sehingga anak tidak merasa takut terhadap orang tua mereka.
Anak-anak yang sering menerima hukuman berpotensi menjadi lebih agresif dan kasar dalam interaksi sosial, karena norma-norma kepatuhan yang diajarkan melalui tindakan fisik yang kasar oleh orang tua. Akibatnya, mereka dapat mengalami tekanan psikologis yang seharusnya dihindari, seperti kurang percaya diri dan rendahnya *self-esteem* akibat penghinaan. Untuk itu, sangat penting bagi orang tua untuk menjauhkan diri dari hukuman fisik maupun verbal demi kesehatan mental dan perkembangan positif anak.
ANTARA
Mengubah Perilaku Anak Tanpa Hukuman Fisik yang Berbahaya
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Tolak Ajakan Berkelahi, Siswa SMP di Banjarmasin Tetap Dipaksa hingga Tersungkur
Survei IPO: Meutya Hafid Masuk 10 Besar Menteri Berkinerja Terbaik
Guru SDN di Banjarmasin Jadi Tersangka Pelecehan Siswi 12 Tahun
Komentar (0)
Memuat komentar…







