**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 200 jenis produk hasil hilirisasi dari kelapa sawit. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, hampir lima kali lipat dibandingkan dengan pencatatan sepuluh tahun lalu, yang hanya menginventarisasi 45 jenis produk.
Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa perkembangan dalam diversifikasi produk kelapa sawit ini merupakan cerminan dari kemajuan implementasi riset dan inovasi di sektor industri komersial di Indonesia. Kontribusi kelapa sawit sebagai model sukses hilirisasi industri sangat mengesankan, mulai dari produk turunan pangan yang dikenal dengan istilah *oleofood*, hingga produk non-pangan yang disebut *oleochemical*, serta bahan bakar terbarukan yang dikenal sebagai *biofuel*, dan material baru yang ramah lingkungan, atau dikenal sebagai *biomaterial*. Semua ini diupayakan dalam skala industri yang berorientasi pada keberlanjutan.
Putu menjelaskan bahwa hasil dari diversifikasi produk ini juga berkontribusi pada nilai ekspor kelapa sawit dan produknya yang mencapai Rp450 triliun. Angka tersebut menyumbang sebesar 11,6 persen dari total ekspor non-migas nasional pada tahun 2023.
Selain itu, sektor pengolahan kelapa sawit ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 16,2 juta orang, termasuk di dalamnya tenaga kerja tidak langsung yang melibatkan para pelaku usaha perkebunan rakyat atau *smallholder*.
Menyadari potensi besar yang ada, Kemenperin berkomitmen untuk mendukung berbagai upaya dalam pengembangan inovasi teknologi di sektor pengolahan kelapa sawit, baik di hulu pada tingkat perkebunan maupun di hilir dalam proses industri pengolahan. "Kami berupaya untuk memfasilitasi pengembangan teknologi industri dengan merumuskan kebijakan yang mendukung inovasi, serta melakukan pemadanan antara berbagai pihak terkait dalam komersialisasi inovasi baru," tambahnya.
Putu juga menekankan pentingnya pembentukan konsorsium yang melibatkan berbagai pihak dalam kegiatan riset untuk menciptakan produk unggulan. Sebagai contoh, salah satu konsorsium riset yang berhasil difasilitasi oleh Kemenperin adalah teknologi *edible-coating* yang berbasis minyak sawit, yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan buah tropis. "Riset ini, yang didukung oleh Kemenperin, telah berhasil menjembatani kebutuhan industri dengan inovasi riset, dan saat ini sedang dalam proses sertifikasi *food grade* untuk mempersiapkan komersialisasi," tuturnya.
ANTARA
Hasil Hilirisasi Sawit Capai 200 Jenis, Kontribusi Ekspor Tinggi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
OJK Kalteng Manfaatkan Momentum BIK 2026, Dorong Masyarakat Bangun Ketahanan Finansial
Erupsi Gunung Semeru Terjadi Enam Kali dengan Tinggi Letusan Hingga 1,2 Km
Jarak Pandang Terbatas Akibat Kabut Asap, Wakil Ketua III DPRD Kalteng Minta Masyarakat Waspada
Jaringan Peredaran Kayu Ilegal Didalami Pihak Kemenhut
Tokoh Lintas Agama Kalteng Tekankan Kebersamaan Hadapi Kemarau dan Karhutla
Flick Lawan Mourinho Serasa Superman vs Batman
Komentar (0)
Memuat komentar…







