BANDA ACEH –
**Borneonews - Banda Aceh**, Akademisi dari Universitas Syiah Kuala (USK) di Banda Aceh, Dr. Taqwaddin, mengemukakan empat strategi utama yang perlu diterapkan untuk mengurangi dampak risiko bencana. Hal ini disampaikan dalam konteks pengalaman yang didapat selepas bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Aceh. Dalam pernyataan yang disampaikan pada Konferensi Nasional Pengelolaan Risiko Bencana berbasis Komunitas XVI 2024 di Banda Aceh, Taqwaddin menekankan pentingnya penyusunan strategi yang melibatkan pendidikan sosial sebagai langkah pertama. Ia menyatakan bahwa pengajaran tentang ketahanan menghadapi bencana harus dimulai sejak usia dini dan berlanjut hingga dewasa. Proses ini mencakup pewarisan budaya yang tangguh agar masyarakat siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya penguatan pemahaman agama sebagai bagian dari strategi ini. Keyakinan yang kuat dapat memberikan dukungan spiritual bagi masyarakat saat menghadapi bencana. Ia menyoroti bahwa setelah tsunami yang menghancurkan pada masa lalu, tidak ada catatan mengenai depresi atau bunuh diri di antara para korban di Aceh. Ini menunjukkan spiritualitas warga Aceh yang dapat menjadi model bagi komunitas lain di dunia. Strategi kedua yang diusulkan adalah aspek ekonomi. Taqwaddin menyarankan perlunya program-program yang ditujukan untuk memulihkan kemampuan ekonomi masyarakat yang terkena dampak bencana. Misalnya, pelatihan kewirausahaan dan dukungan untuk memasarkan produk rumahan dari daerah yang terdampak sangatlah penting. Selanjutnya, strategi fisik menjadi prioritas ketiga. Taqwaddin menyatakan bahwa rehabilitasi infrastruktur publik serta penyediaan tempat tinggal bagi para korban sangat diperlukan. Di area dengan risiko bencana yang tinggi, relokasi masyarakat ke pemukiman baru menjadi solusi yang harus dipertimbangkan. Menurutnya, penataan kembali pola tata ruang yang mempertimbangkan zonasi bencana juga mutlak perlu. Terakhir, Taqwaddin menggarisbawahi pentingnya dukungan dari masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional, untuk membantu korban bencana. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan dukungan yang berarti melalui regulasi dan kebijakan yang mendukung rehabilitasi. Menjelang peringatan dua dekade bencana Tsunami Aceh, Taqwaddin mengajak akademisi dan aktivis kebencanaan untuk melakukan evaluasi terkait strategi-strategi yang telah diterapkan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi mana yang efektif dan berpotensi menjadi model dalam penanganan bencana di masa mendatang. “Penting untuk terus melakukan kajian yang mendalam agar dapat menilai strategi mana yang seharusnya diadopsi dan dijadikan sebagai acuan dalam penanganan bencana,” tutup Taqwaddin. ANTARA