JAKARTA –
**Borneonews - Seoul**, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Tae-yul, melangsungkan percakapan telepon pertama dengan Menteri Luar Negeri baru Jepang, Takeshi Iwaya, pada hari Jumat. Dalam dialog tersebut, mereka membahas berbagai isu yang mencakup hubungan bilateral serta tantangan yang dihadapi di tingkat regional dan global. Menurut informasi yang dirilis oleh Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, percakapan yang berlangsung sekitar 25 menit itu dimanfaatkan oleh Cho untuk menyampaikan ucapan selamat kepada Iwaya atas posisi barunya. Cho juga mengusulkan perlunya komunikasi yang lebih intens antara kedua negara guna memperluas ruang kerja sama yang lebih erat di antara Korea Selatan dan Jepang. Iwaya, dalam percakapan tersebut, menekankan pentingnya hubungan antara Seoul dan Tokyo. Ia menyebutkan bahwa kerja sama yang solid antara kedua negara tidak hanya akan membawa manfaat langsung bagi mereka, tetapi juga akan berkontribusi pada stabilitas serta kemakmuran di kawasan. Kedua menteri luar negeri tersebut sepakat untuk segera mempercepat persiapan perayaan 60 tahun normalisasi hubungan diplomatik antara Korea Selatan dan Jepang, yang dijadwalkan berlangsung tahun depan. Mereka juga berbicara mengenai perlunya kolaborasi dalam menghadapi isu-isu penting seperti program nuklir dan rudal Korea Utara, serta tantangan-tantangan lain yang muncul di tingkat regional dan global. Takeshi Iwaya, yang sebelumnya menjabat sebagai Menteri Pertahanan, ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri setelah pembentukan kabinet baru oleh Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, pada tanggal 1 Oktober. Penunjukan ini menyusul pengukuhan Ishiba oleh parlemen sebagai perdana menteri. Hubungan antara Korea Selatan dan Jepang mengalami perkembangan yang signifikan, terutama setelah tindakan Presiden Yoon Suk Yeol tahun lalu untuk menyelesaikan konflik yang sudah lama terjadi, terkait permasalahan mobilisasi paksa warga Korea oleh Jepang selama masa perang. Tindakan tersebut melibatkan pemberian kompensasi kepada para korban tanpa meminta pertanggungjawaban dari perusahaan-perusahaan Jepang. ANTARA