JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah saat ini sangat konsisten dalam menangani isu akses air untuk sektor pertanian. Langkah ini diambil untuk meningkatkan produktivitas pangan, memperbaiki kesejahteraan petani, serta memperkuat ketahanan pangan di tingkat nasional. Dalam konteks ini, pemerintah mengutamakan berbagai program yang bertujuan menjamin ketersediaan air secara sepanjang tahun, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan. Penyampaian Wamentan ini disampaikan saat ia melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada hari Jumat. Salah satu program utama yang sedang berjalan adalah pembangunan *embung* dan saluran irigasi yang akan diterapkan di berbagai desa. Melalui inisiatif ini, pemerintah, melalui Kementerian Pertanian, berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan memastikan bahwa lahan pertanian memiliki akses air yang memadai. Wamentan menjelaskan, "Dengan adanya *embung* — yang merupakan kolam yang berfungsi menampung air hujan, air limpasan, atau air rembesan — diharapkan para petani bisa meningkatkan hasil panen mereka, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan." Penjelasan ini disampaikan dalam keterangan resmi yang dirilis dari Jakarta. Dalam kunjungan kerjanya, Wamentan mengunjungi Desa Tambahmulyo di Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, untuk mengevaluasi kondisi lahan pertanian yang terkena dampak parah dari kekeringan akibat *cuaca ekstrem El Nino*. Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan sejumlah solusi untuk membantu mengatasi tantangan yang dihadapi para petani. Selama kunjungan tersebut, Wamentan meninjau dua lokasi. Pertama adalah kawasan persawahan yang telah memiliki *embung*, dan kedua adalah area tandus yang belum mendapatkan akses air yang cukup. "Lahan pertanian merupakan fondasi utama perekonomian Indonesia, terutama di Jawa Tengah yang dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Berbagai tantangan seperti perubahan iklim dan kurangnya akses air harus menjadi perhatian utama pemerintah saat ini," imbuhnya. Ia berharap kunjungan tersebut bisa menjadi langkah nyata dalam mengatasi masalah kekeringan yang dihadapi petani. Wamentan menargetkan perluasan areal tanam padi di seluruh Indonesia mencapai 1,2 juta hektare pada Oktober 2024. Kabupaten Pati, bersama Kudus, Demak, Jepara, dan Grobogan, ditargetkan menjadi pusat produksi beras. "Jika kita ingin mencapai swasembada pangan, masyarakat harus aktif dalam usaha penanaman. Kami mendukung semua petani untuk mulai menanam padi di lahan-lahan yang dekat dengan sumber air," tambahnya. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Niken Tri Meiningrum, juga menyatakan bahwa perluasan areal tanam akan memberikan dampak positif bagi daerah tersebut. Ia melanjutkan dengan menjelaskan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan produksi padi dengan memastikan ketersediaan air irigasi melalui pemompaan dan sistem irigasi perpompaan guna percepatan dalam olah tanah dan penanaman. "Perluasan area tanam padi membutuhkan intervensi khusus, karena sangat berpengaruh terhadap stabilitas keamanan pangan," ujar Niken. Salah satu petani dari Pati, Slamet Raharjo, turut menyampaikan pengalaman terkait dampak kekeringan yang mereka hadapi, termasuk kesulitan dalam mendapatkan pasokan air untuk lahan sawah. Ia menyebutkan bahwa satu kotak sawah dapat memerlukan hingga 10 tangki air, sementara hasil panen yang diperoleh hanya sekitar 10 sak. "Harapan kami adalah keberadaan *embung* yang direncanakan ini dapat memberikan solusi atas masalah pengairan di masa mendatang. Dengan adanya *embung* ini, diharapkan kami tidak akan mengalami kesulitan yang sama seperti di tahun-tahun sebelumnya," ungkap Slamet. ANTARA