**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa penerapan bahan bakar minyak (BBM) rendah sulfur dapat berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi, sehingga dapat menjaga kualitas udara di lingkungan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (Biro Klik) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, dalam sebuah pernyataan yang diadakan di Jakarta.
Menurut Agus, penggunaan BBM rendah sulfur menjadi sangat mendesak. "Kita semua menyadari bahwa kualitas udara saat ini tidak memuaskan. Salah satu penyebab utama permasalahan ini adalah tingginya kandungan sulfur dalam BBM yang kita konsumsi," ungkapnya. Dia menyatakan bahwa sektor transportasi memainkan peran penting dalam upaya mengurangi emisi dan memitigasi dampak perubahan iklim yang semakin memburuk.
Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mencapai net zero emission (NZE) pada tahun 2060. Agus menambahkan, "Dengan mempertimbangkan bahwa penggunaan bahan bakar minyak bersulfur tinggi berkontribusi pada emisi, maka peralihan ke BBM rendah sulfur menjadi suatu keharusan untuk mencegah kondisi udara semakin memburuk."
Selain itu, Agus menjelaskan bahwa pemerintah telah menyusun peta jalan atau *road map* yang akan dijadikan panduan dalam distribusi BBM rendah sulfur tersebut. "Pelaksanaan distribusi BBM rendah sulfur sudah ditentukan oleh *road map* yang sudah disusun, dan kami akan mengikuti panduan tersebut," tuturnya.
Indonesia juga menunjukkan komitmennya untuk menjaga kenaikan suhu global dengan meningkatkan Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) dari target pengurangan emisi karbon, dari sebelumnya 29 persen atau setara 835 juta ton CO2, menjadi 32 persen atau 912 juta ton CO2 pada tahun 2030. Penggunaan BBM bersulfur rendah merupakan salah satu strategi yang ditempuh pemerintah untuk menurunkan emisi yang berkontribusi pada pemanasan global.
Dalam peta jalan yang telah disusun, pendistribusian jenis minyak solar bersulfur rendah akan dimulai di Jakarta, Cikampek, dan Balongan sebagai tahap awal. Setelah itu, distribusi akan dilanjutkan ke wilayah Nusa Tenggara dan Kalimantan, serta di Sulawesi, Papua, dan Maluku.
Sementara itu, untuk jenis bensin bersulfur rendah, fase awal distribusi akan dimulai di kawasan Sumatera bagian utara, diikuti dengan bagian selatan Sumatera, kemudian Banten, dan sebagian Jawa Tengah. Setelah itu, pendistribusian akan diteruskan ke Kalimantan Barat.
ANTARA
Penerapan BBM Rendah Sulfur untuk Tekan Emisi dan Cegah Polusi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Agustiar Sabran Ajak Tokoh Lintas Agama Perkuat Persatuan Hadapi Karhutla
Bupati Kobar Bermalam di TNTP, Tinjau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Adyos/Yayang Sabet Perunggu para Tenis Meja Ganda Putra Kelas MD8
PLN Berencana Sewa PLTD 20 MW Selama Lima Tahun di Kapuas
Polres Bartim Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan Lewat Green Policing di Pasar
Fredy Setiawan Raih Perak Para Bulu Tangkis, Akui Kurang Puas
Komentar (0)
Memuat komentar…







