MAKASSAR –
**Borneonews - Mamuju**, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) telah melaksanakan pelatihan yang bertujuan untuk mengantisipasi limbah cair domestik yang berpotensi berbahaya dan beracun. Kegiatan ini menjalin kerjasama dengan Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) Cikarang, sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam penanganan limbah berbahaya. Kepala Dinkes Provinsi Sulbar, Asran Masdy, menyatakan bahwa pelatihan ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes). Fasyankes sebagai salah satu bentuk fasilitas umum wajib memenuhi standar kesehatan lingkungan, sehingga pengelolaan limbah medis mereka harus dilakukan secara tepat sesuai dengan regulasi yang ada. Ia menegaskan pentingnya memperhatikan pengelolaan limbah medis, yang termasuk dalam kategori limbah berbahaya dan beracun. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko terhadap lingkungan. Asran mengingatkan bahwa pengelolaan limbah medis yang tidak baik dapat berakibat pada pencemaran lingkungan dan membawa dampak kesehatan yang serius, seperti risiko tertusuk benda tajam dan potensi penularan penyakit seperti hepatitis dan HIV. Dalam pelatihan, peserta dibekali materi mengenai berbagai aspek penting dalam pengelolaan dan penanganan limbah medis dan non-medis. Materi tersebut mencakup proses identifikasi, pemisahan, penandaan (*labelling*), pengangkutan, penyimpanan, hingga pembuangan limbah. Selain itu, pelatihan ini juga mencakup teknik pemusnahan limbah bahan berbahaya dan beracun (limbah B3), baik dalam bentuk cair maupun padat. Asran berharap agar peserta dapat memanfaatkan pelatihan ini sebaik mungkin, mengikuti setiap proses pembelajaran dengan serius, dan memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan layanan kesehatan di fasilitas masing-masing. Ia menyatakan bahwa pelatihan ini memiliki tujuan untuk membangun sinergi yang kuat antara pusat dan daerah, serta memastikan program kesehatan dapat berjalan secara efektif demi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Lebih jauh lagi, kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada pembaruan dan pembangunan kesehatan di Sulawesi Barat, khususnya dalam membangun pilar sumber daya kesehatan yang berkualitas. ANTARA