JAKARTA –
**Borneonews - London**, Militer Israel telah mengajukan permintaan kepada Irlandia agar menarik pasukan penjaga perdamaian dari pos terdepannya yang terletak di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel. Permintaan ini disampaikan seiring meningkatnya ketegangan dan permusuhan di wilayah tersebut, seperti yang dilaporkan oleh media di Irlandia pada Jumat (4/10). Menurut informasi dari *The Irish Times*, permintaan itu diajukan melalui Pasukan Sementara PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai *UNIFIL*. Hal ini terjadi pada saat Israel meningkatkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah. UNIFIL, sebagai badan yang bertanggung jawab, menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian mereka akan tetap berada di lokasi meskipun menerima peringatan dari pihak Israel. Irlandia, yang mengirimkan pasukan untuk UNIFIL, memiliki satu pos terdepan yang dikenali dengan nama pos 6-52, yang terletak di area yang disebut Garis Biru. Peleton yang ditempatkan di pos tersebut mempunyai tugas penting untuk memantau dan melaporkan setiap serangan yang terjadi di sepanjang perbatasan. Permintaan Israel untuk menarik pasukan tersebut menimbulkan kekhawatiran besar mengenai kemungkinan persiapan Israel menghadapi invasi yang lebih luas ke Lebanon selatan. Ada kekhawatiran bahwa operasi mereka di sepanjang perbatasan bisa diperluas jika situasi semakin tidak terkendali. Walaupun serangan militer yang telah dilancarkan saat ini masih berada dalam skala terbatas, namun meningkatnya kekerasan memicu kecemasan akan munculnya konflik berskala besar yang dapat meluas. *UNIFIL* kembali menegaskan kepada pihak Israel bahwa penarikan pasukan penjaga perdamaian tidak akan dilakukan, menegakkan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas di kawasan yang rawan konflik. Situasi di Gaza juga turut berkontribusi pada ketegangan di Lebanon, di mana Israel telah melancarkan serangan-serangan mematikan di seluruh negeri yang terjadi pada akhir bulan lalu. Akibat serangan tersebut, lebih dari 1.100 orang dilaporkan tewas, termasuk pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah. Ketidakpastian yang meningkat mengenai kemungkinan eskalasi lebih lanjut dari konflik ini hanya menambah kekhawatiran akan terjadinya perang total di kawasan yang rentan ini. ANTARA