PADANG –
**Borneonews - Padang**, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Sumatera Barat mengungkapkan bahwa ekspor bumbu rendang memberikan dampak positif yang signifikan terhadap berbagai sektor, terutama pertanian dan peternakan. Kenaikan permintaan bumbu rendang di pasar global menjadi peluang besar yang harus terus dikembangkan. Pelaksana harian Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Sumbar, Budi Lesmana, menyatakan bahwa dampak positif dari ekspor bumbu rendang sangat besar dan memerlukan upaya kolaboratif untuk terus memajukan sektor ini. Ia menegaskan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan bumbu rendang, seperti daging sapi, cabai merah, santan kelapa, kayu manis, bawang merah, dan kunyit, sebagian besar berasal dari pertanian dan peternakan lokal. Dengan meningkatnya permintaan terhadap bumbu rendang, kebutuhan akan bahan baku juga akan meningkat. Hal ini tentu akan memberikan keuntungan dan meningkatkan kesejahteraan bagi para petani dan peternak, termasuk mereka yang bergerak dalam komoditas bawang, cabai, kelapa, dan daging sapi. Lebih lanjut, Budi mencatat adanya tren permintaan yang terus meningkat untuk bumbu rendang. Beberapa waktu lalu, salah satu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Sumbar telah berhasil mengekspor satu ton bumbu rendang ke Eropa. Selain itu, pelaku UMKM ini juga secara konsisten mengirimkan produk mereka ke negara-negara di Timur Tengah. Selama menyampaikan informasi ini, Budi juga menyinggung tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, seperti perbedaan harga dan masalah izin ekspor yang menghambat mereka untuk mengekspor rendang dalam jumlah besar. DJPb mencatat bahwa salah satu faktor pendorong adalah selisih harga daging segar yang lebih tinggi di luar negeri, yang membuat banyak pembeli lebih memilih untuk mengimpor bumbu daripada rendang yang sudah siap saji. Di sisi lain, Ketua Pembina Himpunan Pengusaha Randang Minangkabau (Hipermi), Syukriah, menambahkan bahwa pelaku usaha kuliner siap memenuhi permintaan global untuk ekspor rendang, terutama dari Arab Saudi. Ia menyatakan kesediaan Hipermi untuk memasok hingga 15 ton bumbu rendang. Meskipun demikian, Syukriah juga mengakui bahwa saat ini masih terdapat kendala bagi para anggota Hipermi dalam menembus pasar internasional. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan dan mencari solusi yang tepat untuk memfasilitasi pemasaran rendang ke mancanegara. “Dua tahun yang lalu, kami berhasil mengekspor bumbu rendang ke Jerman, namun untuk tahun 2024, kami tidak dapat melanjutkan ekspor tersebut karena adanya perbedaan harga yang cukup signifikan,” tuturnya. ANTARA