BORNEONEWS, Sampit - Penularan penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Kotawaringin Timur semakin memprihatinkan. Sejak Januari hingga Juli 2016, sudah 10 nyawa yang direnggut penyakit mematikan yang belum ditemukan obatnya tersebut.

“Kondisi ini sudah sangat memprihatinkan, bayangkan saja, baru semester pertama yakni enam bulan sudah 10 orang penderita HIV/AIDS meninggal,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Faisal Novendra Cahyanto, Minggu (21/8/2016).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur, jumlah kasus baru HIV/AIDS di daerah itu pada semester pertama atau sejak Januari hingga Juni 2016 ditemukan sebanyak 22 kasus. Dari jumlah tersebut, 12 diantaranya sudah masuk kategori AIDS dan 10 orang diantaranya meninggal dunia.

Menurut Faisal, angka itu cukup tinggi padahal baru hitungan enam bulan atau setengah tahun. Sementara pada 2015 lalu, jumlah kasus HIV/AIDS  (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) selama setahun sebanyak 47 kasus, termasuk 9 orang penderita yang meninggal dunia.

“Penderita yang meninggal ini tidak hanya dewasa, ada juga anak-anak. Diduga mereka terjangkit dari ibunya, sedangkan sang ibu diduga tertular dari suaminya,” ujar Faisal.

Dari evaluasi pihaknya, penderita yang meninggal dunia tersebut sebagian merupakan penderita yang tidak minum obat untuk membantu ketahanan tubuh secara teratur, padahal pemerintah sudah menyiapkan obat secara gratis. Ditambah para penderita ini tertutup kepada petugas sehingga sulit.

Pemerintah Kotim melalui Dinas Kesehatan terus mengajak mereka yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS untuk berkonsultasi dan memeriksakan diri secara sukarela. Ada dua klinik VCT (voluntary consult and test) yang disiapkan, yaitu di RSUD dr Murjani Sampit dan Puskesmas Pasir Putih. Petugas menjamin kerahasiaan identitas penderita.

Petugas berharap pihak membantu upaya penanggulangan HIV/AIDS. Penularan penyakit ini dikhawatirkan seperti fenomena gunung es, yakni hanya terlihat sedikit di permukaan tapi jauh lebih banyak penderita yang belum terdata karena umumnya malu dan menutup diri.

Peran keluarga dan masyarakat sangat besar dalam membantu penderita HIV/AIDS agar tidak terpuruk. Penderita tidak boleh dijauhi atau dikucilkan, tetapi harus terus didorong untuk mau berobat secara teratur dan menjalani hidup dengan hal-hal yang positif. (RAFIUDIN/m)