PALANGKARAYA –
**Borneonews - Sampit**, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di Kalimantan Tengah baru-baru ini menerima Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp5 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana ini dialokasikan untuk rehabilitasi sejumlah bangunan sekolah di wilayah Kotim. Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Disdik Kotim, I Gede Sukadana, menjelaskan bahwa anggaran yang diterima pada tahun ini khusus untuk pembangunan dan rehabilitasi sarana prasarana di berbagai sekolah menengah pertama yang dikelola oleh pemerintah. DAK di bidang pendidikan ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi fisik sekolah serta revitalisasi bagi sekolah yang mengalami kerusakan. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, Disdik Kotim berfokus pada pengembangan sarana prasarana yang sangat penting untuk mendukung kenyamanan dan keamanan bagi para siswa dalam mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah. Di Kotim, terdapat 114 satuan pendidikan jenjang SMP, baik negeri maupun swasta, yang semuanya memerlukan perhatian serius dalam hal peningkatan sarana prasarana. Namun, karena keterbatasan anggaran daerah, perbaikan ini hanya dapat dilakukan secara bertahap. Sukadana juga mengakui kondisi sarana prasarana di jenjang SMP belum sepenuhnya memadai. Meskipun demikian, pemerintah daerah melalui Disdik berkomitmen untuk melakukan perbaikan setiap tahun sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia. Oleh karena itu, anggaran bantuan dari DAK ini sangat penting untuk mendukung peningkatan sarana pendidikan, meskipun untuk menyelesaikan semua kebutuhan tidak dapat dilakukan dalam waktu satu tahun. Setiap anggaran yang diterima untuk rehabilitasi dan pembangunan sekolah akan diupayakan untuk dibagi secara merata, baik untuk sekolah-sekolah dalam kota maupun di daerah sekitarnya. Anggaran dari DAK direncanakan akan disebar ke beberapa sekolah sesuai kebutuhan masing-masing. Sukadana mencatat bahwa total anggaran sekitar Rp5 miliar sebenarnya tidak begitu besar jika dibandingkan dengan biaya material dan pengeluaran lainnya saat ini. Menurut perhitungan sementara, dana tersebut hanya mampu memenuhi usulan perbaikan atau pembangunan di lima hingga enam sekolah. Sebagai contoh, penambahan ruang kelas di SMPN 2 Kota Besi saja membutuhkan biaya sekitar Rp1,1 miliar. Selain SMPN 2, SMPN 1 Sampit dan SMPN 3 Mentaya Hulu juga mengajukan permohonan perbaikan. "Dengan 114 SMP yang tersebar di 17 kecamatan, ini tentu merupakan tantangan besar bagi kami. Namun, kami akan terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut secara bertahap," tutup Sukadana. ANTARA